Saya lebih sependapat dengan pandangan Cak Nun tentang konsepsi azab yang Allah turunkan dari masa ke masa pada kaum yang menentang dakwah. Azab turun di kala itu karena Allah murka melihat kekasih-Nya (para Nabi) dihina dan direndahkan. Karena kekasih-Nya dikuyo-kuyo seperti itu, sedangkan para kekasih ini pasrah kepada-Nya, maka dilibaslah segera para manusia begundal terburuk di zaman itu. Hikmahnya dengan mereka cepat mati, dosanya juga tidak tambah banyak.

Sedangkan di zaman ini, kita terikat pada proposal yang diajukan Nabi Muhammad agar umatnya tidak diazab seperti umat terdahulu. Di masa beliau masih hidup secara fisik, berbagai bentuk penghinaan kepada beliau selalu beliau atasi dengan kemaafan yang besar. Ditawari para malaikat untuk memberesi hingga ditawari kerajaan dan segunung emas, Kanjeng Nabi tidak mau. Benar-benar manusia yang penuh kecintaan dan terus dicintai oleh umat manusia yang masih memiliki cinta dalam hatinya hingga hari ini.

Kini beliau sudah tiada, dalam arti kehadiran fisik beliau sudah tidak ada lagi sejak 14 abad silam. Berbagai pertumpahan darah terus menghiasi pergantian kekuasaan umat Islam. Dan anehnya, sejarah semacam itu lebih banyak dipelajari umat Islam ketimbang dahsyatnya pewarisan ilmu dari para ulama dan kisah-kisah keberanian mereka dalam meluruskan perilaku para raja yang zalim itu. Saya rasa tradisi belajar sejarah kita yang feodal dan berorientasi kekuasaan ini membuat kita juga terobsesi berkuasa, atau jika agak-agak pengecut obsesi berkuasa itu disalurkan lewat numpang tenar lewat jalur-jalur kekuasaan. Sangat sedikit di antara kita yang berani untuk menghambil pilihan hidup sebagai individu-individu merdeka yang membentuk masyarakat Islam seperti potret Madinah.

Karena tradisi yang meracuni pikiran kita saat ini adalah tradisi Fir’auni, maka lengkap sudah ketidakpentingan kita di mata makhluk langit. Allah tidak punya alasan lagi untuk murka kepada manusia, sebab tidak ada lagi manusia yang layak dicintai-Nya seperti para nabi dan ulama. Hari ini mau sezalim apa pun manusia, toh sama-sama saling menzalimi dan permusuhan berlangsung tidak ada habis-habisnya. Yang baru merasa kenal Islam sedikit, sombongnya tidak karuan dan merendah-rendahkan yang lain. Maka dari itu, lebih baik kita itu merasa hina dan kotor untuk menghiba kecintaan Allah kepada kita hingga akhirnya memenuhi syarat untuk mendapatkan pertolongan. Jangan sampai kita gampang GR, gampang sombong merasa sholeh, dan gampang mengkafir-kafirkan saudara kita.

Maka, mending kita itu selalu resah, jangan-jangan kita itu saat ini sebenarnya sedang diuja biar sekalian edan hidup dengan segala gelimang materi. Enak-enakan menikmati hidup dengan segala tipuan alam pikiran yang sesat. Ini akhir zaman, jika ada situasi yang seolah-olah mentereng, mengapa kita tidak curiga bahwa jangan-jangan hal-hal semacam itu adalah fatamorgana. Apalagi jika ujung-ujungnya dicaplok kapitalisme global.

Sekali lagi ini adalah pendapat. Dan apa pun yang kita perdebatkan, kelak kita harus memutuskan sesuatu yang bisa kita pertanggungjawabkan di akhirat. Silahkan mau jadi pengikut fanatik atau mau jadi pembelajar tanpa henti. Semua itu pilihan. Dan tidak usah gelisah kalau ada yang berbeda pendapat dengan kita selagi belum ada pertemuan dan bertukar argumentasi pikiran dengan lengkap.

Juwiring, 19 Januari 2017

2 Comments

  1. Sakty

    Mas, kalau boleh tau, tulisan yg berjudul “azab dan dilulu kadonyan” itu dari tulisan atau ceramah Cak Nun ya? Boleh minta sumbernya mas? Saya cari-cari ngga ketemu, hehehe

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.