Belajar sabar atas perbedaan pendapat dan belajar berargumen dengan nalar yang baik, tidak sekedar unjuk data, apalagi lempar dalil. Yang namanya syariat Allah itu ya kemenyeluruhan dari urusan-Nya, Dialah Yang Awal dan Dialah Yang Akhir. Allah itu Maha Esa, menciptakan setiap makhluk-Nya dengan keunikannya yang tunggal dan semuanya terhimpun alam kemenyatuan atas kehendak-Nya.

Itulah mengapa mendewakan demokrasi dan HAM secara buta, sama saja mengingkari Asma Allah, al Aahad dan al Waahid. Emangnya setiap mahkluk-Nya, khususnya manusia homogen dari pikiran, nasib, dan kemampuannya hidup, kok diseragamkan dengan aturan model demokrasi modern dan HAM.

Tidak ada demokrasi, yang ada adalah kesadaran sejati manusia untuk hidup berdampingan dan mewakilkan beberapa urusan pada manusia lain yang memiliki maqamnya. Tidak ada HAM, karena manusia tidak punya legitimasi apa-apa untuk menuntut haknya, yang ada cuma Kewajiban Asasi Manusia. Seandainya Allah menciptakan manusia untuk diperintah njengking atau ngising seumur hidupnya itu hak prerogatif Allah. Seandainya Allah mendahulukan asy Syadiid-Nya dari pada ar Rahmaan dan ar Rahiim-Nya, sehingga orang yang sudah beribadah pun tetap dimasukkan ke neraka itu juga hak prerogatif Allah. Allah kok disuruh-suruh manut cara berpikirnya manusia.

Tugasnya manusia itu, sebisa-bisanya hidup baik mengikuti petunjuk-Nya dan tidak kerengan satu sama lain. Udah itu dilakuin saja, ra usah nggagas syurgane kancamu.

Juwiring, 25 Agustus 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.