Indonesia dan Islam, dua hal yang jangan sampai bertemu dan bersatu, jika bisa dikuasai dan dikendalikan, malah dihancurkan sekalian. Karena saat ini, pusat Islam ya ada di sini, di mana keragaman dan berbagai potensi kebangkitan peradaban secara utuh masih terpendam. Timur Tengah sudah tidak ada harapan, masing-masing sudah bertikai satu sama lain. Eropa, Amerika, dll masing-masing berjuang menghadapi tekanan umat mayoritas.

Ingatlah, meskipun umat Islam mayoritas di Indonesia, tidak pernah ada cerita umat Islam berdemo menolak eksistensi agama lain yang minoritas. Tapi lihat di berbagai belahan dunia yang umat Islamnya minoritas, mereka masih berjuang karena banyak menghadapi demonstrasi maupun tekanan untuk menghapuskan eksistensi Islam. Lalu media massa membuat jungkir balik pikiran manusia. Jika ada seorang atau beberapa orang non Islam dibunuh orang Islam, seluruh dunia riuh memberitakan dan menghina Islam habis-habisan. Tapi jika ada negara yang notabene non Islam mengirim ribuan pesawat dan membom hingga menewaskan ribuan umat Islam, itu dianggap sebagai korban perang biasa. Inikah keadilan?

Makanya, mari sudahi pertikaian remeh-remeh seputar urusan perut dan eksistensi nafsu berkuasa yang merusak persaudaraan kita. Peradaban Islam dan Indonesia saat ini sedang diincar untuk dihancurkan agar jangan sampai bangkit, meskipun kita yakin hal itu tidak akan bisa, karena ksatria-ksatria muda terus bangkit. Mereka yang tumbuh dalam manajemen berpikir dan berdialektika di luar kerangka materialisme yang sedang menguasai dunia saat ini. Generasi ini tidak terpengaruh oleh liputan dan berbagai pencitraan media massa, karena mereka terus bergerak untuk bangkit dengan metode yang tidak terbaca oleh metode mainstream yang telah mengglobal.

Kebangkitan dari timur ini tidak dikungkung oleh nasionalisme sempit. Para pemuda ini mengikuti jejak para ulama pendahulunya untuk mempersembahkan jejak dan perjuangan untuk dunia seluruhnya. Mereka belajar dan berusaha mewariskan ilmu, membangun tradisi baru yang berbeda dari tradisi jumud saat ini. Tradisi jumud yang dikangkangi kapitalisme dan telah membajak semua hal hingga ke lorong-lorong umat Islam. Para pemuda ini laksana siluman yang terus menjaga laku agar tetap teguh dengan amanah para guru mereka. Mereka terus menerus melakukan tahqiq atas berbagai pendaran ilmu yang mereka terima.

Tamantirto, 17 Oktober 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.