Kiai Muzammil di penghujung Maiyah tadi malam mengajak jamaah melihat kembali sejarah perang Siffin. Sebuah perang yang paling memilukan dalam sejarah umat Islam yang hingga hari ini terus membekaskan lara. Ketika nafsu berkuasa membuat sahabat-sahabat mulia pun tergelincir untuk bersilat lidah menggunakan al Quran.

Tanpa mengurangi kemuliaan Amr bin Ash dan Muawiyah bin Abi Sufyan, yang juga sebagai sahabat Nabi Muhammad, keduanya melakukan kesalahan dalam perang Siffin ketika berhadapan dengan khalifah yang sah, Ali bin Abi Thalib. Hal itu ditandai dengan terbunuhnya Amar bin Yassir sebagaimana yang dinubuatkan Nabi Muhammad semasa masih hidup bahwa kelak dia terbunuh oleh pemberontak. Saat perang terjadi Amar berada di pihak khalifah.

Saat itu, pasukan Muawiyah sudah terdesak menghadapi pasukan Ali bin Abi Thalib. Muawiyah akhirnya meminta Amr bin Ash yang menjadi sahabat dekatnya baik sejak zaman jahiliyah maupun setelah memeluk Islam untuk mengatasi kondisi kritis itu. Amr pun meminta pasukan mengangkat mushaf di ujung pedang. Ada ungkapan menarik ketika pasukan mengangkat mushaf itu, “Jika Ali mengerti maksud ajakan damai ini dan berhenti berperang, kelak akan ada golongan pasukannya yang tidak terima dan pecahlah kubu Ali. Jika Ali tetap meneruskan perang, maka pasti ada golongan pasukannya yang memilih menghentikan perang karena mereka melihat kitabullah dijunjung tinggi sebagai ajakan perdamaian”.

Di zaman itu, bahkan dengan mushaf al Quran pun umat Islam berhasil dikecoh untuk menjadi berpecah belah. Sejarah mencatat bagaimana Ali bin Abi Thalib dengan segala kemuliannya sebagai khalifah menghentikan perang dan memilih berdamai dengan Muawiyah. Sehingga segolongan pasukannya kecewa dan akhirnya menghalalkan darah semua pihak yang tidak sekubu dengannya, kemudian kita menyebutnya Khawarij. Khalifah Ali pun wafat terbunuh di tangan Khawarij ini. Beruntung Khawarij masih gagal membunuh Amr bin Ash dan Muawiyah bin Abi Sufyan. Kalau mereka berhasil membunuh kedua pemimpin yang berselisih dengan khalifah ini, bisa-bisa saat itu Khawarij yang tampil jadi penguasa kejam. Sedikit-sedikit membunuh pada mereka yang berbeda pendapat.

Kita tidak hendak mencela Amr bin Ash dan Muawiyah bin Abi Sufyan, tapi kita tidak menutup mata bahwa pada peristiwa itu mereka berdua membuat kesalahan yang memberi buntut panjang hingga peristiwa Perang Karbala yang menewaskan cucu Nabi Muhammad, Husain bin Ali, sehingga melahirkan golongan Syiah. Kedua sahabat ini tetap memiliki kemuliaan sebagai sahabat Nabi Muhammad sesuai dengan maqamnya. Setelah peristiwa Karbala itu, kemudian umat Islam didera pecah belah tak berkesudahan. Tapi untunglah ada ulama dari masa ke masa yang selalu mendinginkan para penguasa dan umat agar kembali belajar dan memahami letak-letak perbedaan yang diperbolehkan dan yang tidak diperbolehkan.

Masjid, shalawat, dan al Quran adalah alat pemersatu umat Islam. Tapi ketiganya kini dilenyapkan melalui mekanisme pembodohan secara sistematis. Masjid kini tinggal bangunannya, fungsinya telah lenyap tanpa bekas. Shalawat tidak menjadi kultur bersama lagi, karena setiap kreativitasnya harus berhadapan dengan sebutan “bid’ah”, dan kini al Quran sudah dimuseumkan parah dalam bentuk fisiknya yang keren dan mentereng namun orang-orangnya justru sering bertengkar terhadap tafsirnya, sampai ada pernyataan lucu bahwa yang tahu tafsirnya al Quran cuma Allah.

Juwiring, 18 Oktober 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.