Perdagangan akan sehat jika dimulai dari produksi, bukan jadi makelar. Perdagangan berangkat dari usaha memasarkan hasil produksi, bukan sekedar main untung selisih kulakan dan jual berapa. Kalau yang begituan mah makelar.
Pekerjaan di bidang pertanian, peternakan, pertambangan, kepenulisan, dll adalah sebuah proses produksi paling hulu. Sedangkan proses pengolahan hasil pertanian, pembuatan makanan, mebel, penerbitan, dll adalah produksi tingkat lanjut untuk menuju proses perdagangan.
Bangsa yang sehat adalah bangsa yang sadar alur produksi hingga perdagangannya. Pemerintah yang sungguhan adalah yang bisa memfasilitasi warganya dari produksi hingga perdagangannya. Bukan malah jadi makelar yang menempatkan warganya sebagai konsumen.
Karena pemerintah menjadi teladan dalam menjadi makelar, maka mayoritas iklim perdagangan kita saat ini juga bersifar makelar. Orang lebih suka jualan dengan main selisih untung sebesar-besarnya, dari pada capek-capek bertani, berternak, menulis, dan membuat berbagai kreativitas. Dan paling celaka, politisi hingga akademisi kita hari ini juga mayoritas makelar. Makanya orientasi mereka pun juga profit semata.
Betapa wagunya sebuah negara yang punya perjanjian bernegara seagung Pancasila ternyata didominasi kaum elit yang otaknya makelar. Tingkat paling parah kemakelaran hari ini ditandai dengan impor gila-gilaan, hanya mengandalkan pariwisata alam (menuju kerusakan alam), dan perhatian yang besar bangsa ini hanya pada aktivitas politik karena segala hal terlanjur dipolitisasi.
Barangkali inilah yang dicondro Kanjeng Nabi, bahwa umatnya memang tidak akan menyembah berhala patung, tapi akan menyembah fulus, fulus, dan fulus. Pokoknya take beeeeeerrrrrrrr.
Jakarta, 12 Maret 2018





