Relasi antara agama dan politik itu bukan relasi setara, tetapi sebuah hierarki di mana agama lebih tinggi dari politik. Politik itu mestinya dijiwai oleh agama agar tidak membuat manusia melakukan perang brutal seperti dunia hewan.
Perilaku sekuler yang memisahkan agama dan politik sebenarnya buah kekerdilan memahami agama itu sendiri. Hal itu juga tidak jauh beda dengan mereka yang hari ini suka mempolitisi agama, di mana agama menjadi komoditi dalam pencitraan meraih kekuasaan.
Ketika dakwah Islam telah meluas memenuhi utara Afrika, Andalusia, Timur Tengah, India, bahkan Asia Tenggara, perang politik antar penguasa muslim itu selalu terjadi, dan tetap sadis. Mengapa umat Islam tetap bersatu? Karena mereka tetap menggunakan akal sehat, meneladani kehidupan para ulama yang ikhlas.
Jadi kenyataan bahwa ada perang brutal dan pembantaian oleh penguasa Islam terhadap umat Islam dan ulama itu jangan ditutup-tutupi. Itu kenyataan kok. Hal ini penting agar umat Islam seperti kita tidak minder dan para tokoh muslim itu tidak GR bahwa kebangkitan Islam itu semata-mata dari mereka.
Kebangkitan Islam itu berangkat dari kolektivitas umat Islam, bukan ditentukan oleh para elitnya. Asal umat Islam hidup sederhana, ikhlas, dan gigih dalam menjaga kehormatannya, peradaban Islam akan tegak kok. Islam tidak tergantung pada kekuasaan, tetapi para penguasalah yang dari dulu tergantung pada Islam agar tidak kehilangan kekuasaannya atas umat Islam.
Jika kita hari ini adalah tukang becak, kuli bangunan, pedagang sayur, tukang nyeberangin orang-orang di jalan, tukang parkir, atau apa pun profesinya tetap bisa menjadi muslim yang baik kok dengan mengedepankan kasih sayang dan menjauhi permusuhan, perkubuan, dan berbagai tindakan bodoh yang memicu perang saudara sesama muslim.
Saya tidak terlalu percaya dengan retorika para politisi zaman now selagi gaya hidup mereka tidak berempati pada rakyat kecil. Rakyat butuh pembelaan yang jujur atas nasib mereka yang hari ini banyak diusik oleh monopoli, pembatasan dan manipulasi informasi, dan pembungkaman kreativitas melalui regulasi dan kekangan hak kekayaan intelektual.
Pondasi kepemimpinan umat Islam itu ada di masjid. Tentu saja bukan masjid zaman now yang sudah dikapling golongan A, B, C sehingga mereka merasa berhak melarang golongan lain yang tak sejalan untuk memanfaatkan masjid. Pondasi kepemimpinan masjid dibentuk dari tradisi shalat berjamaah, berdiskusi di luar-luar waktu shalat (bukan kajian searah doang), dan muamalah di mana kaum kaya menanggung saudara-saudaranya yang kekurangan.
Umat Islam harus kembali menemukan Allah-nya sendiri-sendiri. Jangan sampai keberadaan ulama, madzhab, ormas, dll justru merecoki proses hubungan langsung para personal umat Islam kepada Rabb-nya. Hari ini kita dilingkupi berbagai fanatisme madzhab sehingga sering kita jumpai kelucuan di mana sama-sama menyembah Allah tapi bisa saling mengejek dan menghina hanya karena merasa jalannya paling benar dan menganggap jalan orang lain salah/sesat. Jika pun dibentuk dialog, niat kita sudah salah, yaitu kita benar, dia sesat, maka bagaimana pun caranya kita luruskan dia.
Di zaman internet seperti sekarang, dimana era web tingkat permukaan saja sudah membuat jutaan umat manusia mabuk dengan informasi dan teradu domba satu sama lain, perlu kiranya untuk mengambil jalan-jalan sunyi di tengah keramaian ini. Agar kita tidak ikut-ikutan celaka. Orang Jawa bilang tapa ngrame, bertapa di tengah keramaian. Bukan memisahkan diri dari kehidupan orang, tetapi kita menikmati hidup dengan menjauhi sikap cupet, cendhek, dan cethek.
Surakarta, 14 Maret 2018





