Kunjungan perdana ke Ciheras mempertemukanku dengan sosok yang bukan sekedar teknolog, tapi sufi teknolog.

Baru kali ini saya mendapat konsep aplikasi syukur dalam berteknologi. Biasanya para ilmuwan hanya sibuk bicara inovasi dan profit untuk kemandirian negeri. Walau jujur berkarya, UUD (ujung-ujungnya duit) tetap jadi target utama yang langsung dibeberkan. You know lah kalau udah urusan gituan, rawan ditunggani para buto ijo.

Tapi kalau Bang Ricky justru bicara dari landasan syukur seperti yang ada dalam al Quran. Baginya, mengambil manfaat angin, ombak, aliran air, sinar matahari adalah upaya bersyukur terhadap karunia Allah, yakni dengan mengonversinya menjadi energi. Semua itu dilandasi upaya konservasi SDA, agar hutan tidak dirusak dan barang tambang tidak terus dieksploitasi. Disitulah kreativitas dan ilmu dikerahkan semaksimal mungkin.

Adanya fakultas teknik dan rumpun pendukungnya, ya untuk beginian, bukan jadi makelar. Nah, fakultas sosial kebudayaan, pendidikan, dan hukum menyuplai tenaga ahli untuk mengawalnya. Kalau cuma mbulet di dalam kelas terus, ya ga bakal selesai masalahnya, wong teorinya cuma dihafal melulu, itupun teorinya mereka, belum tentu pas di sini. Beliau kerap berseloroh, kalau anak-anak lulusan fakultas teknik tidak mau memikirkan rekayasa renewable energi secara sungguh-sungguh, dan memilih jadi operator teknologi-teknologi yang terbukti merusak alam, bubarin aja tuh fakultas teknik, dari pada menghasilkan otak perusakan lingkungan selanjutnya.

Itulah mengapa di Ciheras tak hanya ada kincir angin, ada kolam ikan, ada kandang kambing, ada kebun jahe, ada kebun kacang. Menurut cerita salah satu anggota tim yang alumni dari almamater yang sama denganku, bang Ricky tetap ngarit, mbedol kacang, dan berbagai pekerjaan yang kebanyakan dihindari kaum berdasi. Di sini aku melihat teknolog yang satu ini tetap santai menikmati hidup di rumah bilik berdinding gipsum dan beratap asbes. Jangan tanya jarak Ciheras ke pusat-pusat kota. Kalau kamu mau ke sana, benerin niatnya, kuatin mentalnya.

Saya yakin bahwa yang seperti itu masih banyak di negeri ini, dalam warna dan keunikan masing-masing. Tapi orang-orang seperti mereka memang harus dicari dan diteladani. Ya, kita mencari dan memulai hal kecil dari diri sendiri. Biarkan yang di Senayan dan pusat-pusat pemerintahan menikmati dagelan tak lucu. Semoga segera disadarkan bahwa keputusan mereka yang merugikan rakyat, dosanya ditanggung seumur-umur sampai batas penindasan berakhir. Semoga disadarkan pula, bahwa ruang berkarya yang jujur masih banyak tempatnya, dan tidak melulu politik adalah satu-satunya solusi. Ada banyak ruang kosong lain yang mesti diisi.

Juwiring, 29 Desember 2015

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.