Setelah dikasih clue sederhana sama bang Ricky Elson, bahwa dia mengembangkan energi terbarukan itu karena ingin bersyukur atas karunia angin, sinar matahari, dan air yang berlimpah di negeri ini, sekaligus menjaga alam agar tidak terus dirusak dengan digali isinya, ternyata membuatku menyadari bahwa ada banyak kekufuran yang kita lakukan secara berjamaah.

Jika kita sudah sering membaca dan membahas ayat “sungguh jika kamu bersyukur niscaya Aku tambah nikmat bagimu, dan sungguh jika kamu mengkufuri niscaya azab-Ku amat pedih”, paling pol cuma urusan duit pribadi kita yang egois. Padahal, cobalah kita sedikit keluar melihat realita, kita renungkan apa yang sudah kita pilih selama ini.

Praktek impor kita pada bahan makanan (sementara tanah kita subur), praktek copas teknologi sana sini (sementara leluhur kita mewariskan cara mengelola alam yang lebih baik), praktek copas pendidikan kita pada Barat (sementara kita memiliki konsep pendidikan pesantren yang terbukti lebih hebat dalam membangun kemandirian bangsa dari tekanan penjajah selama berabad-abad) bukankah itu bentuk kekufuran kita secara nasional. Makanya tidak heran jika selama ini kita merasakan berbagai siksaan secara massal, yang menyangkut harga diri kita.

Apalagi kita mulai mempraktekkan perilaku bani Israel yang terbiasa membunuh nabi-nabi dan orang mulia di antara mereka. Kita kan juga terbiasa membunuh bibit unggul di sekitar kita dengan mengabaikan seruan mereka tentang kemandirian (meremehkan dan sering mencurigai orang-orang yang berbeda pemikiran dengan kita), membiarkan mereka dihabisi oleh para bandit dan mafia melalui tangan pemerintah dan kita bahkan ikut keplok-keplok.

Semakin dionceki, kok ternyata kita itu mirip bani Israel yang caranya bawanya al-Quran kayak keledai dibebani kitab-kitab, sebanyak apa pun kita membaca ayat, kita nggak mudeng isinya. Al-Quran yang luar biasa kayak gitunya ternyata cuma buat bahan debat dan melegitimasi segala kebrutalan dan kerakusan kita soal materi. Dikit-dikit udur bab dalil. Maka wajar saja jika sekarang kita merasakan berbagai kegelisahan parah. Apalagi orang-orang yang terzalimi terus bertambah. Berhati-hatilah wahai yang merasa pantas jadi pemimpin. Satu kebijakanmu yang salah, akan mengakibatkan kezaliman setiap generasi, dan dari penderitaan merekalah, pahalamu dikuras dan dosa-dosa mereka ditimpakan padamu. Apalagi jika ternyata nafsu dijadikan panglima saat menjadi pemimpin, semata-mata demi menumpuk materi, alangkah lebih celakanya lagi.

Mari bersyukur sebisanya, ra ketan mung membiasakan diri makan seperlunya, yang penting halal. Dolan seperlunya, ra perlu keren-kerenan. Dan kita maknai setiap perjalanan hidup ini biar benar-benar lillahita’ala.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.