Istilah “main hakim sendiri” sejauh ini hanya dimaknai sebatas perbuatan keroyokan untuk mengadili pelaku kejahatan (copet, jambret dll) tanpa melalui proses peradilan yang sah. Padahal ghibah di majelis pengajian hanya dengan tujuan membuka aib tanpa solusi terbuka untuk pihak yang dighibah, ghibah di grup-grup media sosial/ pesan instan, atau pemberitaan media yang tendensius dan cenderung menyalahkan pihak yang belum divonis oleh lembaga peradilan yang diakui itu adalah “main hakim sendiri” yang jauh lebih keji karena menghancurkan reputasi seseorang.

Makanya ketika kita sedang berperkara dengan orang lain, kita harus bersepakat menunjuk orang di luar kedua pihak untuk menjadi hakim dan bersedia menerima keputusannya. Jika tidak mau repot, maka kita diminta memaafkan orang yang berbuat salah pada kita. Itulah mengapa jika ada saudara-saudara kita yang berselisih, yang diminta mendamaikan, bukan berkubu sekalipun kepada pihak yang benar. Problemnya, dengan adanya kepentingan ekonomi dan fanatisme golongan, ukuran saudara sudah berubah, tidak lagi seperti yang seharusnya. Berkubu dan berperang untuk menang lebih menarik ketimbang mengamalkan konsep “menang tanpa ngasorake”.

Dengan bergesernya ukuran saudara, sekarang kita menjadi tidak jelas. Rusaknya konsep ukhuwah dari makna asalnya, membuat kita bingung menyikapi fenomena negara dan lembaga-lembaga di bawahnya. Karena kegagalan kita memahami ukhuwah, maka kita akan lebih khusyu’ bertengkar ketimbang bersiaga menyambut akhir zaman yang sudah semakin terbuka gerbangnya. Sementara keniscayaan bahwa Allah akan mengangkat ilmu-ilmu-Nya dengan mewafatkan para ulama akan terjadi. Artinya jika fenomena seakan-akan mulai banyak orang ceramah, waspadai bahwa hanya beberapa yang asli, selebihnya (mungkin) bisnis atau sejenisnya. Semakin mendekati kemunculan Dajjal, semakin banyak ilusi ditebar, karena ketika sampai pada puncak kebodohan itu, nasihat akan semakin banyak bertebaran tapi tidak berguna sedikit pun, kecuali bagi yang berpikir.

Setidaknya jika hari ini kita mudah terpukau dengan hal-hal yang bersifat fisik dan materi, bahkan sampai level kecanduan, maka kita perlu riyadhoh jiwa yang lebih kuat. Sebelum benar-benar sampai pada puncak kebohongan itu, mari waspada, waspada, waspada agar selamat.

Juwiring, 11 Februari 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.