Jaman unyu, ketika belum bisa mengakses jalur-jalur informasi penting dan belum dibimbing oleh guru-guru yang berkompeten di bidangnya, saya termasuk orang desa yang nggumunan. Barangkali sampai sekarang pun masih. Cuma satu hal yang saya syukuri, saya itu gampang penasaran dan tidak gampang kekeuh pada hal-hal yang sifatnya informatif. Jadi sangat gampang menerima hal-hal baru selama masuk dalam kerangka logika berpikir yang sehat.

Itulah mengapa fikrah gerakan dakwah apa pun tidak bisa mengunci pikiran saya untuk sampai pada level fanatik, apalagi di masa-masa ini saya mencoba mempelajari kontennya, menjelajahi sejarahnya, melihat berbagai perubahan polanya. Saya merasa beruntung bisa bersikap di pertengahan. Cuma ya sudah pasti saya akan dihantam oleh semua pihak yang fanatik dengan fikrahnya sendiri-sendiri. Saya harus menyiapkan diri, sekuat mungkin dan sabar tanpa batas. Itulah yang selalu dipesankan beberapa guru saya yang sudah berada di titik keseimbangannya.

Di zaman ini, saya merasakan betul sifat egois yang besar dalam diri, terutama untuk merasa paling benar sendiri. Makanya secara eksistensi sosial saya berusaha untuk tidak jadi apa-apa. Di dunia maya, caranya lebih kompleks. Salah satunya adalah banyak menyerap informasi dan berpikir terus, sehingga tidak terlalu banyak melihat sisi kekurangan personal orang lain dan fokus bikin status sendiri. Momentum lainnya, membangun keberanian merevisi pendapat ketika mendapatkan pemahaman baru yang diyakini lebih benar dan bermanfaat.

Di era penjajahan pemikiran seperti saat ini, keselamatan pola pikir dalam bingkai akidah adalah kunci utamanya. Tanpa kesadaran itu, apa pun yang sudah terlanjur membesar saat ini akan menghancurkan kehidupan kita bersama. Sebenarnya bisa saja kita hidup egois dengan tidak berpendapat apa pun atas peristiwa yang terjadi. Karena serangan global saat ini sudah merontokkan segala sendi kehidupan, kecuali pemikiran orang-perorang. Asal secara personal kita merdeka, kita bisa selamat dengan izin Allah. Tapi apa ya seperti itu cara berpikir kita? Apa bedanya dengan para kapitalis itu dong yang cuma memikirkan diri mereka sendiri-sendiri.

Maka dari itu saya mohon maaf atas gangguan-gangguan dari status saya yang belum tentu benar tapi saat saya menyetatuskannya, saya meyakini kebenarannya. Saya terus mencari dan mencari. Saya tidak keberatan merevisi pendapat saya jika saya meyakini ada yang lebih benar di waktu nanti. Silahkan dibaca, ditanggapi, dan disangkal jika memang menurut keyakinan Anda salah.

Juwiring, 9 Oktober 2016

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.