Idealnya, pendidikan itu dijalankan oleh masyarakat sebagai proses penjagaan kebudayaan. Berkaca dalam sejarah Islam, pemerintah Islam (baca:khilafah) tidak bisa mengintervensi ulama dalam proses pendidikan. Mereka bisa saja menindas dan membantai para ulama, tetapi tidak pernah mampu menundukkan proses pendidikan yang diselenggarakan para ulama.

Metode ini dijaga selama berabad-abad oleh para ulama. Di Indonesia, pesantren adalah bukti bagaimana masyarakatlah penyelenggara pendidikan, bukan pemerintah. Ketika Majapahit masih berkuasa, padepokan Giri sudah berdiri. Salah satu komandan pasukan Majapahit adalah seorang muslim yakni Ahmad Hussein, anggota pasukannya banyak dari kalangan pesantren. Bahkan ada sebuah catatan ketika Raja Bali menyatakan tunduk pada Majapahit, ia diberi hadiah 50 ahli di berbagai bidang yang kebanyakan adalah para cendekiawan muslim. Mereka ditugaskan untuk membantu pembangunan kawasan Bali.

Hingga masa pemerintahan Hindia Belanda, dari padepokan dan pesantrenlah mental masyarakat dibangun untuk mandiri dan setia berjuang memberikan perlawanan kepada pemerintah yang tak lain adalah kolaborasi dari demang hingga adipati pribumi yang joinan dengan utusan Kerajaan Belanda. Penindasan ini masih berlaku hingga hari ini. Jika mau jujur, penjajah yang sebenarnya itu ya oknum kepala daerah hingga pemerintah pusat yang rakus dan korup. Meski buanyak jumlahnya, okelah kita tetap sebut oknum saja.

Kacaunya, sekarang urusan pendidikan saat ini terlanjur kita pasrahkan ke pemerintah yang dengan begitu arogannya melakukan perusakan sistem dan membuat persekolahan tak ubahnya mesin cetak pekerja dan lahan bisnis baru. Kini kita telah memasuki kondisi dimana rakyat bingung soal pendidikan. Pendidikan yang seharusnya dimulai dari keluarga justru dipasrahkan total kepada sekolah. Sementara sekolah disandera oleh pemerintah. Hampir tidak ada lagi sekolah yang merdeka, kecuali lembaga besar seperti ponpes Gontor, Sidogiri, dan tempat-tempat lain yang masih bertahan dengan idealismenya.

Urusan pendidikan sepenting ini justru dilepas oleh keluarga dan masyarakat kepada sekolah dan pemerintah. Persis seperti masyarakat yang menyerahkan urusan makanan halal dan haram pada labelnya MUI. Masyarakat sibuk mengejar materi dan tak lagi bersedia tirakat. Hampir tidak ada wacana lain dari pembicaraan kebanyakan orang tua sekarang, selain karir dan pencapaian kekayaan. Setiap ingat obrolan-obrolan nyebahi macam ini, aku males kalau mau nembung anak orang buat jadi istri. Saya berharap ketemu calon mertua yang obrolannya sejarah dan cita-cita sosial.

Kini kita mengalami ketidakpedulian massal, bahkan sekalipun ada simbol-simbol agama ditampakkan. Tak jarang sekilas simbol agama justru jadi ujung tombak kapitalisme gaya baru. Apalagi yang dikit-dikit dilabeli Islami dan Syariah, huh itu benar-benar sebuah kamuflase yang luar biasa. Omong kosong lah bicara soal kepemimpinan dan kemajuan negeri tapi upaya pemberadaban dan tirakat kemandirian diabaikan. Bolehlah nggedebus di TV, tapi kalau ujung-ujungnya cari bagian ya sama aja.

Sudah saatnya rakyat sadar. Rakyat adalah pengguna produk pendidikan. Kalau produk yang dihasilkan tidak mampu membuat bangsa ini mandiri di bidang pangan, maritim, dan teknologi, apa kita masih hendak menyerahkan total pada pemerintah. Sebagaimana, jika MUI pekerjaannya cuma jadi tukang stempel dan sertifikasi, apa seperti ini juga masih dipertahankan. Bagaimana para ulama di masa lalu yang berhasil menghadirkan realitas kehidupan Islami di tengah masyarakat plural, yang tidak hanya nyaman bagi umat Islam, tapi juga umat lainnya. Apa kita masih ingin jadi korban adudomba dari dalang-dalang yang memproduksi isu HAM, terorisme, hingga SARA?

Yang udah jadi sarjana dan digelar cendekia, beban ini dipikulkan ke pundak kita. Kita tidak sedang ingin memberontak pada negara seperti para teroris yang entah beneran teroris atau drama terorisme yang sudah sering nongol. Kita harus kembali mengambil tugas peradaban ini sebagai bukti cinta kita kepada Ibu Pertiwi. Akhirnya, cita-cita seorang bocah polos, siswa di Sekolah Alam Bengawan Solo menampar kita semua. Di saat kebanyakan orang bercita-cita dengan sesuatu yang berpusat pada egosentrisme (jadi pilot, jadi polisi, dll), bocah ini justru bercita-cita “ingin selalu membantu orang lain”. Itulah cita-cita luar biasa, karena dengan cita-cita itu, peran apa pun yang dijalani akan bermuara ke sana. Apa kita ndak malu?

Juwiring, 16 Januari 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.