Semakin ke depan, kita akan memasuki hari-hari yang sulit secara makna. Terutama untuk gojek yang intelek. Karena semakin ke depan, akan banyak ketegangan terjadi. Banyak orang tegang dan emosinan. Baik karena terlalu serius berpikir karena terperangkap dalam ilusinya sendiri atau karena terlalu serius ngejar “tuhan”.

Ketegangan dari orang-orang, baik yang sering menggunakan kata-kata Arab maupun tidak, untuk menggapai kekayaan tanpa batas. Mereka akan meminta Tuhan agar memberi kesempatan kelon dengan “tuhan” yang mereka puja. Shalat dan doa-doa yang dipanjatkan kepada Tuhan semata-mata demi mengejar “tuhan”. Yang tidak shalat dan tidak berdoa pun juga bekerja keras mengejar “tuhan”.

Karena “tuhan” itu langka, maka hanya sekian yang bisa berdekatan dengan Tuhan, selebihnya adalah mereka yang hanya ngemut driji sambil bermimpi bisa ngglendoti dan ngeloni “tuhan”. Kondisi ini akan semakin teruk, karena diperparah oleh aneka pendangkalan pikiran yang masif melalui informasi dan kiat-kiat praktis masuk syurga. Percayalah, Anda cukup datang, bawa modul, dengerin ceramah bentar, lalu Anda berseragam (ya wajah, pakaian, dan lainnya) seperti korps yang ada, Anda akan ditahbiskan masuk syurga. Sebagai penghuni syurga, ya wajar jika Anda bisa mensertifikasi manusia-manusia biasa, termasuk manusia macam saya.

Kondisi ini akan terus menjadi bayang-bayang kebanyakan manusia. Mereka terus dibayangi cita-cita ketemu sama “tuhan” itu. Hingga ketika manusia sudah tidak sanggup memperingatkan manusia lainnya, maka kita ikuti sabda Nabi, “larilah ke gunung, selamatkan diri ketika “dia” datang”. “Dia” akan memberi bukti dan solusi atas kerinduan manusia yang segera ingin kelon dengan “tuhan”. Mereka akan memuja-muja karena sang “Mesiah” ini sanggup mempertemukan mereka dengan “tuhan” yang mereka impikan sejak hari ini. Riil, sekejap mata, seperti saat kita terbiasa minta bukti diperlihatkan “tuhan” dulu baru baru mau nyoblos. Tidak peduli mereka fasih berbahasa Arab, pandai baca al Quran, hingga mereka yang setiap hari selalu berlari mengejar “tuhan” selama otak mereka memang berisi kerinduan mendalam terhadap “tuhan”.

Butuh waktu berabad-abad untuk meyakinkan orang bahwa kertas itu lebih berharga dari pada koin emas. Kini dengan teknologi informasi, hanya butuh beberapa tahun untuk membuat otak orang menjadi membusuk dengan berbagai tipuan dan kerusakan pola pikir. Kerusakan yang parah ini membuat al-Quran sama sekali tidak berguna karena malah dibajak buat bisnis, kompetisi, dan berbagai komoditas dalam rangka mencapai “tuhan”.

Saya tidak sedang gojek dengan tulisan saya ini. Lihatlah hari-hari ke depan akan banyak perburuan “tuhan” di sekitar kita. Demi “jihad agung” ini, setiap orang akan kehilangan rasa kemanusiaannya, kecuali mereka yang masih dititipi cinta oleh Tuhan. Ini memang bukan tiba-tiba terjadi, ini perjalanan panjang hampir 1,5 milenium.

Maka mengapa kita harus mencari tuhan baru. Sementara Dia sudah selalu bersama kita, memancarkan cinta untuk kita. Mengapa kita mengejar tuhan lain, bahkan tak jarang mendikte Tuhan kita. Emang siapa kita?

Juwiring, 15 Januari 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.