Saya itu lebih ndredeg dengan pertanggungjawaban sampah rumah tangga yang sebagian masih harus saya buang di depan untuk diangkut petugas sampah dan pastinya hanya akan ditimbun jadi gunung sampah di pinggiran kota.

Saya baru bisa mengevakuasi sampah organik dan sampah plastik kering yang bisa dibuat ecobrik dalam botol-botol air mineral. Selebihnya saya buang di tempat sampah depan untuk diangkut petugas sampah secara berkala. Rasa berdosa saya atas sampah-sampah rumah tangga itu saat ini rasanya lebih besar ketimbang absennya saya dari memikirkan nasib umat soal pilpres. Sampah yang mengotori lingkungan itu sudah pasti kesalahan saya dan akan saya tanggung dosanya.

Kalau soal pilpres, wong itu sistem yang dari sejak mekanisme demokrasinya saja sudah abu-abu, apalagi soal pilpresnya. Sistem perwakilan kita itu abu-abu tenan. Coba tanyakan kepada para anggota DPRD dan DPR itu, mereka secara definitif mewakili rakyat yang mana. Sesekali tanyakan kepada rakyat yang jumlahnya ratusan juta ini, kalau punya keluhan terkait hak-hak kerakyatannya siapa wakilnya di DPRD dan DPR. Namanya perwakilan yang harus definitif, siapa diwakili siapa, nggak asal ngomong bahwa “saya mewakili rakyat”. Karena wakil kita saja nggak jelas, nanti kalau terlanjur milih capres dan Presidennya bekerja sak-sake, siapa yang akan menindaklanjuti keluhan kita.

Jadi saya lebih khawatir soal dosa-dosa nyampah saya. Padahal belum lagi dosa-dosa nyinyir saya di Fesbuk yang sudah pasti banyak menyakitkan pembaca (yang tidak kenal dan tidak hafal kebiasaan nyinyir saya). Ya Allah, mengapa harus ada pilpres dan pemilu yang sedemikian wagunya. Udah pilihannya cuma dua itu, nggak ada yang baru lagi. Yang satu terbukti janji-janjinya banyak yang lewat. Yang satunya terbukti kalah melulu. Terus gimana dong ya Allah. Apa harus nunggu 5 periode lagi untuk ketemu Presiden yang kampanyenya, “Wahai rakyat semua, mari kita biasakan untuk tidak nyampah. Buang sampah di tempatnya itu belum cukup. Yang baik adalah mengelola sampah yang kita buat. Sebab sampah kita adalah tanggung jawab kita masing-masing.”

Surakarta, 27 Desember 2018

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.