Peristiwa nekadnya wartawan tetap memfoto/merekam/memberitakan pejabat yang sedang shalat itu salah satu bentuk ereksi dalam bekerja. Aktivitas personal kok tetap diurusi.

Bupati, Gubernur, hingga Presiden itu kalau masuk masjid dan mau shalat ia menjadi manusia. Sebab tidak ada tupoksi pejabat kok ibadah. Yang ibadah di masjid itu manusianya dalam perannya sebagai Abdullah.

Begitu pula saat mereka kelon dengan perempuan yang secara agama dan catatan sipil adalah istrinya. Yang kelon itu ya manusia dalam peran dirinya sebagai laki-laki. Coba cari tupoksi Bupati, Gubernur, Presiden yang isinya wajib kelon dengan istrinya, pasal mana ayat berapa? Celakanya, dalam aturan kepejabatan kita posisi istri masih abu-abu, sehingga tidak heran kalau kita dengar bahwa ada Presiden yang kadang-kadang keputusannya tergantung apa kata sang istri. Hahaha.

Belum lagi ketika ada program pemerintah soal pembangunan dan penanganan masyarakat. Masak wartawan nulisnya, “Presiden memberikan bantuan kepada masyarakat korban bencana alam”. Emang duite presiden sepira akehe. Yang diberikan presiden itu kan uang negara, ya nulisnya yang lengkap, “Presiden menyerahkan bantuan negara kepada masyarakat korban bencana alam”. Rakyat harus tahu, uang yang diterima itu bukan dari presiden, tapi dari negara. Negara dari mana, ya dari kolektivitas bangsa Indonesia. Makanya konyol, para pejabat itu bisa pencitraan dalam menyerahkan bantuan sebab rakyatnya juga tidak paham dari mana uangnya.

Jadi, wahai para juru warta, bisa nggak menulis berita sesuai dengan tempatnya. Ingat, masyarakat semakin bodoh salah satu sebabnya adalah tulisan-tulisan para jurnalis. Di abad ini, media adalah penyambung estafet kepenyairan di zaman lampau.

Surakarta, 7 Januari 2019

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.