Negara-negara yang rakyatnya masih setia pada hierarki-hierarki sosialnya, biasanya sehat dan maju.

Negara-negara yang rakyatnya mencampuradukkan semua hierarki sosial dan mengkebirinya di bawah hieararki politik dan ekonomi, biasane ribut wae.

Contohnya di Indonesia. Rakyat yang berada di kelompok hierarki akademik, tunduk sama politikus. Rakyat yang berada di kelompok hierarki keagamaan, tunduk sama politikus. Rakyat sendiri secara umum tunduk sama politikus, merga seneng diberi duit langsung (ekonomi). Politikus sendiri, tunduk sama konglomerat, sebab bisa ikut jadi kaya.

Kalau rakyatnya setia pada hierarki-hierarki sosialnya, politikus dan konglomerat tidak akan sesantai di Indonesia. Pemuncak hierarki akademik (para profesor dan doktor) sangat gigih dan vokal mengkritik, sebab mereka orang-orang yang sangat tahu tentang hal-hal yang menjadi kepentingan publik. Pemuncak hierarki keagamaan (para kiai dan guru ngaji) sangat gigih melarang rakyat memilih para koruptor dan politikus bermoral buruk.

Fenomena ini sebenarnya memberi penegasan bahwa secara sosial, kehidupan kita itu menomorsatukan uang, kesejahteraan, dan kenikmatan individual. Ini barangkali juga tercermin dari cara beragama kita yang semakin eksklusif dan ekstrim. Termasuk kita terus nguri-uri semboyan “buanglah sampah pada tempatnya”. Kita sangat suka kebersihan, tapi ya hanya untuk diri kita. Sampahnya kita buang, biar diurusi orang lain. Dan setiap kita berpikir demikian, akhirnya sampahnya terbirkan dan menumpuk menimbulkan bencana di masa depan.

Di sinilah, sebenarnya kita perlu rendah hati mengakui, bahwa agama belum bisa memberi manfaat untuk kehidupan kita bersama. Agamanya tidak salah. Yang salah adalah cara kita beragama.

Surakarta, 2 April 2019

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.