Selain Nabi Muhammad, umumnya anugerah kenabian sudah bersifat bawaan. Sementara Nabi Muhammad, beliau menjalani kehidupan manusiawi hingga paripurna menjadi manusia, baru diangkat menjadi Nabi dan Rasul.

Hal yang sering diabaikan dalam mempelajari shirah adalah bahwa Nabi tidak menyadari dirinya akan menjadi Nabi. Bahkan karena lamanya jarak antara wahyu pertama dengan wahyu berikutnya, Nabi sampai mengalami guncangan jiwa dan pernah berencana bunuh diri dengan menjatuhkan diri dari atas bukit. Sampai akhirnya Jibril menampakkan wujud aslinya dan menegaskan status kenabian dan kerasulan Muhammad.

Fase perjalanan Nabi Muhammad ini sebenarnya sangat penting untuk merumuskan model parenting untuk anak. Sebab apa yang dijalani Nabi Muhammad seharusnya relevan dan aktual untuk ditiru manusia di setiap zaman. Dari perjalanan hidup beliau, berarti manusia seharusnya mengalami kematangan spiritual dari waktu ke waktu. Salah satu apilkasinya adalah adanya kesadaran pribadi ketika usia semakin tua, maka semakin bersemangat untuk mengabdi, bukan malah jadi biang keladi.

Nabi Muhammad giat bekerja dan menjadi wirausahawan sejak muda. Tetapi berkat nurani kemanusiaan beliau yang jernih, beliau sampai pada waktunya totalitas mengabdi ketika datangnya wahyu sebagai penanda kenabian dan kerasulan. Nabi tetap bekerja sebagai manusia, tetapi laku spiritualnya semakin sungguh-sungguh dan ketajaman batinnya semakin kuat. Alangkah indahnya jika para politisi di negeri kita menempuh metode Nabi ini, garang di masa muda dan bijak di masa tua. Bukan malah makin tua makin menjadi-jadi.

Surakarta, 10 November 2018

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.