Pernyataan Ahok itu sudah jelas, laporkan saja secara hukum, dalam skala nasional itu masalah kecil, jangan dibesar-besarkan secara berlebihan.

Media-media Islam maupun yang masih punya nurani keadilan mending saat ini menurunkan jurnalisnya untuk investigasi berbagai hal ke lapangan. Salah satunya adalah soal tanah. Berapa persen sih tanah di Kabupaten Anu yang sudah dicaplok naga. Misalnya yang tinggal di Wonogiri, bener ga tuh kawasan Gunung Gandul masih 100% milik pemkab? Kalau ada sekian persen yang dibeli, ada apa di dalamnya? Kok bisa dibeli seluas itu.

Ingatlah, Palestina dulu dikuasai Israel dari proses pembelian lahan. Penjahatnya adalah para pemilik modal dari kalangan Zionis dan para birokrat penguasa Islam yang doyan duit. Setelah memiliki basis wilayah meskipun kecil, 18.000 milisi Yahudi ekstrimis pun ditugaskan menebar teror untuk mencaplok wilayah Palestina satu demi satu hingga akhirnya bisa menguasai banyak wilayah Palestina dan mendirikan negara yang sangat kuat seperti sekarang.

Jangan selalu menyalahkan pihak musuh. Musuh bisa berkuasa dan menang karena dukungan pengkhianat-pengkhianat dari dalam yang tamak harta dan kekuasaan. Bukankah seorang Voltaire sudah bilang, DI HADAPAN UANG, AGAMA SEMUA ORANG SAMA. Pawai dan aksi jalanan menunjukkan solidaritas itu penting, tapi melakukan perjuangan secara intelektual dan sistematis jauh lebih dibutuhkan. Kalau semua umat Islam cuma sibuk memikirkan masalah politik, apa dikiranya jaringan para kapitalis raksasa nggak cari celah lain untuk merebut kedaulatan kita. Mikir dong.

Itulah yang dulu dikhawatirkan Rasulullah, umat Islam ini disamping hobi bertengkar satu sama lain, sukanya cuma grudak gruduk ga jelas. Suka GR menjadi paling berjasa bagi umat, padahal ….. ya begitulah. Pait.

NB: Saya tidak menggunakan term rasial seperti China karena pertarungan global saat ini bersifaf ideologis, yakni antara kapitalisme-materialisme dengan keadilan. Ada keturunan China yang nasionalis dan cinta tanah air. Ada juga keturunan China yang rakus dan berkawan dengan pribumi pengkhianat. Jadi mari berdiri di kaki yang benar, jangan di dua kaki, apalagi di kaki yang salah.

Juwiring, 8 Oktober 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.