Pada pemerintahan yang sehat, koalisi dan oposisi sadar aturan main. Pemerintah beserta tim koalisi sibuk bekerja mewujudkan program, sedangkan oposisi gencar mengkritisi program yang berjalan dan mengajukan tuntutan-tuntutan perbaikan secara konsisten.

Tapi, agar kondisi berjalan, diperlukan rakyat yang sibuk bekerja dan cangkrukan sendiri, bukan yang jadi tim hore. Lha sekarang, kalau ada oposisi ngritik pemerintah, rakyatnya yang marah-marah membabi buta membela pemerintah. Demikian pula kalau ada oposisi yang cari sensasi dengan melancarkan serangan-serangan pergantian rezim sebelum waktunya, rakyat yang pro oposisi juga hore-hore mendukung secara membabi buta.

Rakyat yang beginian ini ya sama saja, mau yang pro pemerintah secara buta maupun yang pro oposisi secara buta. Sebab dengan kualitas rakyat yang seperti ini, pemerintah dan oposisi tidak akan bekerja secara serius. Sebab pemerintah bisa bekerja sak-sake, toh tetep dibela rakyat. Demikian pula oposisi, bebas bersuara yang bukan-bukan, toh tetap dibela pendukungnya. Dan yang mengkhawatirkan, tipe rakyat yang seperti ini tidak bisa menerima pendapat obyektif para tokoh intelektual, sebab pikiran mereka isinya cuma pro dan anti.

Ini negara republik. Negara republik mensyaratkan rakyat yang terus belajar dan tumbuh untuk mengerti negerinya sehingga dapat melakukan pengawasan yang ketat terhadap penyelenggaraan negara. Kalau mau santai-santai dan jadi tim hore lima tahunan, mending kita diam-diam sembunyikan saja “republik” dari pikiran kita. Kita rayakan terselenggaranya negara “kerajaan” modern. Di negara kerajaan, kita pasrah bongkokan pada raja-raja yang berkuasa penuh, yaitu para tokoh idola-idola kita yang bebas ngomong apa saja.

Kita rayakan kerajaan modern. Kerajaan yang teritorinya bukan lagi wilayah riil, tetapi dunia maya dan jagad opini publik. Di Indonesia, kerajaan-kerajaan telah berdiri cukup banyak, ada yang berciri madzhab dan agama, hingga kerajaan-kerajaan berorientasi bisnis. Itulah mengapa kita bisa melihat masjid-masjid mulai dikuasai satu kekuatan dan dishalati oleh mereka yang satu jenis, sekalipun datang dari jauh. Demikian pula tokoh/parpol, meski kantor pusatnya di Jakarta, tetapi mereka telah memiliki “rakyat” di seantero Nusantara. Inilah kerajaan-kerajaan modern yang masih malu-malu untuk kita sebut demikian.

Jika cara pandang yang seperti ini ditumbuhsuburkan, maka kita tinggal menunggu waktu menuju peperangan yang sesungguhnya. Yang akan menguras tenaga rakyat dan melambungkan para raja yang menang ke depannya. Dalam peperangan antar kerajaan, rakyat akan selalu jadi korban penindasan. Para pangeran akan mendapatkan tahtanya, baik dengan memenangkan perang, atau membuat kesepakatan bersama yang saling menguntungkan. Rakyat, oh kasihan, akan tetap jadi karpet yang diinjak-injak.

Surakarta, 24 April 2018

Tinggalkan Balasan