Kalau ingin menikmati kelucuan yang paling lucu, isenglah untuk stalking linimasa twitter atau facebook atau jejak-jejak digital lainnya dari para politisi.

Dijamin bakal ngakak banget, karena pada periode tertentu dia promoin si A, di masa lainnya dia promoin si B, padahal A dan B saling berseberangan menurut versi pemberitaan media.

Saya sendiri tidak akan menyebut hal itu kemunafikan, karena para politisi ini hanya menjalani aturan main dari demokrasi kita yang aneh. Karena di nasional mereka bisa berkoalisi, di daerah bisa beroposisi. Para politisi ini tentu harus mengikuti anomali ini.

Jadi saya justru kasihan kepada mereka yang harus menjalani ritme kehidupan semacam ini. Lebih kasihan lagi jika para politisi melakukannya dengan sadar dan atas kepentingannya sendiri, bukan karena menjalankan instruksi partai. Saya tidak perlu menyebut nama-nama politisi kutu loncat yang ketika bersarang di partai A ia tidak segan-segan menghujat partai B yang dulu membesarkannya.

Meski demikian, saya lebih kasihan dengan diri saya yang dulu juga pernah terlalu serius berpartisipasi dalam kampanye politik, padahal ya bukan timses resmi. Lebih memprihatinkan lagi melihat masyarakat kita masih ada yang bertengkar hanya karena beda pilihan saat pemilu. Kok bisa tahu? Bukannya rakyat harusnya menyalurkan mandatnya di bilik suara. Kok bisa saling tahu? Jadi, dengan aturan demokrasi yang sangat aneh semacam ini, bagaimana kita tidak ngakak-ngakak terus seperti sekarang.

Kita semua ingin melepaskan diri dari penderitaan bersama akibat penyelenggaraan negara dan pemerintahan yang kacau. Tapi kita tidak bersedia berdiri sebagai sebuah bangsa. Kita memilih menjadi kelompok-kelompok kecil yang terus bertengkar pada hal-hal yang lucu. Sementara para kapitalis terus menerus menyeponsori para politisi yang maju di pemilu. Bodohnya, kita menyangka mereka mewakili aspirasi rakyat. Rakyat mana? Rakyat pengusaha lah. Wong malah ada rakyat maunya dikasih uang. Lha politisi dapat uangnya dari mana? Dari sponsornya kan. Nah, kalau nanti politisinya memperjuangkan para sponsornya, salah siapa?

Surakarta, 8 April 2018

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.