Pernahkah Anda bertanya bagaimana Bapak-Bapak Kiai Kanjeng punya stamina super seperti itu, dalam sebulan jadwal manggungnya lebih dari 10 kali? Itu pun sudah pasti mereka harus melakukan perjalanan lewat darat (kecuali ke luar Jawa atau ke luar negeri, maka masih harus pakai pesawat). Mereka cek sound di sore hari, lalu manggung dari jam 8 malam – 1 dini hari. Kalau di Mocopat Syafaat bahkan sampai subuh hari.

Bagaimana logika kita memahami mereka? Apakah mereka artis, mereka musisi, atau apa? Pernahkah berinteraksi dengan mereka? Padahal ada di antara mereka yang seorang guru, sehingga kalau habis manggung harus langsung pulang dan njujug sekolah mengajar. Ada di antara mereka yang menjadi kiai di pesantren sehingga harus kembali mendidik santrinya. Bagaimana mereka membina keluarga dan menjadi bagian penting dari masyarakat di sekitarnya.

Ada di antara mereka yang digelari Cak Nun sebagai Kepala Dinas Pemeriksaan Kere, karena setiap kesempatan luangnya berkeliling kota Yogyakarta mencari orang-orang gila dan gelandangan untuk dimandikan dan diberi tempat pemeliharaan yang terhormat. Ada yang menjadi akademisi di sebuah kampus negeri di Indonesia. Dan ada satu karya mereka yang kini dimuseumkan sejajar dengan karya Mozart, Beethoven, dll di Museum Conservatorium Musik Napoli Italia.

Dan anehnya, bangsa yang besar ini tidak pernah memiliki logika untuk mengapresiasi sebuah kelompok unik semacam ini. Koes Plus yang karyanya hampir 1000 lagu pun juga masuk dalam museum saja, tak begitu melekat di ingatan generasi muda. Apalagi peran Koes Plus sebagai duta Indonesia dalam misi melawan Inggris di Malaysia, dalam merebut Timor Timur, dll. Dan siapakah generasi muda hari ini yang memiliki apresiasi besar terhadap WS Rendra. Begitu anehnya, Presiden SBY sampai tidak pidato pada hari kematiannya, malah pidato di hari kematian Mbah Surip. Bahkan presiden negeri ini pun punya prioritas aneh semacam itu.

Demikianlah potret dari logika-logika kita yang terbalik-balik. Kita punya selera yang aneh-aneh dibandingkan normalnya bangsa-bangsa lainnya yang begitu membanggakan leluhur dan pujangganya. Di sini malah memuja Arab, Amerika, Korea, dan entah mungkin jin juga. Entah ini karena sebuah kebodohan atau selera berpikir kita yang tidak bisa dijelaskan oleh logika matematika dan standar adab agama. Atau jangan-jangan guyonan bahwa bangsa Indonesia itu punya darah Iblis itu benar adanya? Hahaha. Di negeri ini, kerja keras tak lagi mengagumkan. Yang mengagumkan adalah kekayaan, entah bagaimana cara mendapatkanya.

Bercita-citalah jadi orang kaya harta di negeri ini, sekalipun harus mencuri. Niscaya akan banyak orang mengagumi dan mengikuti. Apalagi jika rajin korupsi dan berbagi hasil korupsi pasti banyak dipuji sebagai dermawan yang baik hati. Tapi jika pilihan hidupmu bekerja keras dan mengabdi, siap-siap saja dibully. Bila perlu hasil karyamu akan diplagiasi dan namamu akan dicoret dari daftar penghargaan paling bergengsi. Jika kamu terpaksa ditakdirkan kaya, tapi tidak mriyayi dan tetap suka ngopi, maka akan banyak dirasani tetanggamu yang suka nyumet geni. Inilah keindahan hidup di negeri yang sangat kaya raya. Allah akan menjaga kemuliaan hamba-hamba-Nya agar mereka tetap dengan kemuliaan dan keikhlasannya.

Ketika puisi Lautan Jilbab berkumandang hingga menyebar di seluruh penjuru negeri, apakah para akhwat sekarang yang sedang ramai berjilbab ria nan cantik itu pernah mengangkat fenomena teater puisi yang seharusnya mendapatkan rekor MURI seandainya lembaga itu telah lahir di masa itu? Pernahkah acara kemusilimahan di kampus mengangkat fenomena besar itu yang membuat para muslimah sekarang tampil dengan jilbabnya di muka publik? Saya tidak yakin akan terjadi, karena sejarah itu milik para pendominasi.

Di negeri ini, kita diberi pilihan. Kagum pada pekerja keras atau kepada selebritis. Karena pekerja keras dan selebritis itu beda jauh. Meskipun boleh jadi ada selebritis itu juga pekerja keras. Tapi umumnya pekerja keras tidak akan bersedia ditempatkan seperti selebritis. Sementara, jutaan kepala fokusnya sama selebritis, dan mungkin jutaan kepala inginnya hidup seperti selebritis. Demikianlah keanehan di negeri kita.

Juwiring, 26 Oktober 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.