Politisasi Agama?

Bagi saya, perilaku mempolitisasi agama itu bukan pada institusinya, tetapi pada perilaku personalnya.

Jadi adanya partai-partai berasaskan Islam itu tidak berarti anti kebhinekaan. Tidak pula identik dengan politisasi agama. Karena sejarah lahirnya republik ini berangkat dari fakta perjuangan umat Islam juga. Wajar kalau secara khusus umat Islam punya wadah perjuangan politik. Jangan naif dong.

Perilaku mempolitisasi agama itu seperti, sehari-harinya ga pakai jilbab, karena demi menggaet pemilih muslim njuk berjilbab, asline garong, njuk macak ustadz. Pokoknya dari cara berbusana, penampilan, hingga pernyataan sering dicari hal-hal yang bisa mengesankan sebagai sosok relijius. Perilaku semacam itu kan biasa dipraktikkan kebanyakan politisi, tidak peduli dari parpol sekuler atau pun Islam.

Yang memang disayangkan bagi saya itu, kok ya partai Islam jumlahnya lebih dari satu. Mbok iyao mau melakukan fusi jadi satu partai saja. Wis to, kembali ke era Masyumi awal-awal. Ikuti nasihat KH Hasyim Asy’ari bahwa hanya Masyumi-lah satu-satunya wadah perjuangan umat Islam di Indonesia. Mungkin NU dan Muhammadiyah bisa mulai melakukan dorongan itu, biar diikuti oleh yang lain.

Lha terus gimana besok menghadapi pemilu? Ya bebas. Mau milih atau tidak terserah. Karena parpol itu ditentukan oleh para pengurus dan timsesnya. Nah, dari pada debatnya terus-terusan soal ideologi parpol, yang semuanya jane sama, yaitu ingin berkuasa. Mending lakukan amatan-amatan yang jeli terhadap kader-kader riilnya di lapangan. Suka tebar kebencian apa tebar kepedulian? Terus amati dengan seksama. Jangan nyinyir dengan, “ah kan itu ada motifnya!”. Ya motifnya kan jelas, memang mereka kader parpol, parpolnya butuh suara. Nyinyirmu kuwi wae sing pekok.

Amati saja terus, mana yang diisi relatif banyak orang-orang baik dan produktif maka percayakan mandat pada mereka. Tapi jika sudah mengamati berkali-kali kok tidak yakin, ya tidak apa-apa. Yang pasti, saat ini parpol adalah wadah legal untuk disaluri mandat rakyat. Jadi ya jangan anti-anti parpol lah. Tapi juga jangan terlalu percaya pada parpol. Karena dana parpol itu sumber utamanya ya dari para kapitalis, bukan dari iuran rakyat. Tapi secara peraturan tetap sah, sebab para kapitalis itu terdaftar sebagai anggota parpol, bahkan terkadang adalah pendiri parpolnya. Hahaha

Terakhir, teruntuk sedulur-sedulurku khususnya yang sesama muslim, mbok sudah hentikan nyek-nyekan soal preferensi politik. Nek terpaksa beda yo ra popo, penting ra marai gelut. Ndak mengko sholate sia-sia.

Surakarta, 21 Maret 2018

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses