Ini bahan omong kosong saja. Mau dipercaya silahkan, tidak juga lebih baik dari pada bikin pusing.
Selama ini kita sering suudzon kepada bangsa jin. Makhluk tetangga yang sama-sama hidup dengan satu mandat “beribadah” itu kerap kita sangka yang tidak-tidak. Padahal, kita tidak pernah melakukan studi komprehensif terhadap bangsa jin, terutama kebudayaannya.
Praktik perdukunan yang marak terjadi boleh jadi adalah bentuk persekongkolan bisnis antara manusia dan bangsa jin. Dalam ilmu pengobatan, ilham tentang penyembuhan penyakit itu sifatnya khusus dan diturunkan oleh Allah pada manusia atau jin yang memang memiliki maqam dan kelayakan untuk itu, terlepas manusia dan jin kemudian menyalahgunakannya.
Jadi, manusia yang memang dititipi kompetensi tentang pengobatan, ia akan dikenal oleh dunia jin dan manusia (tentu saja yang mencari tahu). Demikian pula jin yang kompeten, ia akan dikenal juga. Manusia dan jin yang menyadari hal ini, tidak akan menyalahgunakan kemampuannya. Ia akan mengabdi dengan apa yang dititipkan padanya. Demikian pula pada kompetensi yang lain. Maka tidak heran jika ada kiai di daerah Termas rutin melakukan kajian kitab yang diikuti para jin, alias beliau terlihat sendirian jika dilihat dengan mata lahir.
Praktik perdukunan yang aneh-aneh untuk penyembuhan dan berbagai keperluan lainnya, konon menurut pendapat seseorang yang mempelajari kebudayaan jin terjadi karena adanya transaksi manusia yang berotak bisnis dengan jin yang menyalahgunakan kompetensinya karena tergiur untuk mendapatkan kedudukan di bangsanya. Maka terjadilah transaksi. Maka tidak heran manusia yang buka praktik perdukunan terlihat sakti, tapi sering minta syarat macam-macam dan terkadang tidak masuk akal. Ya karena dia memang tidak punya kompetensi apa-apa terkait pengobatan atau keperluan yang dihajatkan, kemampuannya sekedar calo yang cari keuntungan. Peristiwa syirik terjadi jika ada manusia awam yang percaya bahwa sang dukun bisa menyembuhkan penyakitnya, sehingga ia bergantung padanya.
Nah, bagaimana dengan dunia perbankan? Mengapa tuyul, babi ngepet, dll tidak mengakses bank, tapi justru merampok cash money yang tersedia di rumah-rumah orang biasa? Mengapa ada istilah pesugihan buta ijo? Apakah ia raksasa yang berwarna hijau, atau sebenarnya ia adalah jin calo yang punya koneksi terhadap persekutuan manusia dan jin yang menyelenggarakan sistem perbankan, sehingga yang memelihara buta ijo konon bisa mengetahui jenis uang-uang yang akan dirilis di masa-masa mendatang.
Sekali lagi, ini cuma bahan omong kosong. Tapi bagi saya lebih menarik ketimbang urusan pilpres 2014 yang belum kelar hingga sekarang.
Surakarta, 28 Februari 2018





