Kasus Dimas Kanjeng itu sebenarnya refleksi tentang kualitas mental kebanyakan kita saat ini. Saat masih adem ayem, mereka diam dan turut menikmati keuntungan. Begitu kasusnya terbuka, rame-rame membuat laporan dan menginjak-injak Dimas Kanjeng.

Kisah ini mengingatkan saya pada apa yang dialami Pak Suyudi, pendiri SABS. Saat beliau masih menjadi pengusaha dan banyak memberikan kontribusi sosial, masyarakat desanya ikut menikmati. Giliran ada pihak yang tidak menyukai gerakan beliau karena dianggap mau nyalon lurah, beberapa orang yang ditolongnya malah menjadi penentang dan penghina beliau, dan berbalik ke kubu yang anti beliau. Kini tuduhan itu tidak pernah terbukti karena sampai usia beliau kepala 5 ini beliau konsisten mengurus pendidikan. Beliau memilih berkawan dengan berbagai kalangan birokrat dan politisi demi menyampaikan gagasan-gagasan beliau terkait pendidikan ketimbang ruwet dalam pusaran pertarungan politik.

Itulah mengapa sebaik apa pun pemimpin di negeri kita, kebanyakan menemui masalah serius dalam perjalanan mereka. Bukan karena ancaman dari luar, tapi mentalitas sebagian orang-orang kita yang menjijikkan seperti itu. Mentalitas busuk dan pengkhianat yang suka berkubu karena uang dan pamor. Hal itu pula yang membuat Cak Nun kecewa berat setelah membujuk Presiden Soeharto turun tahta dan bersedia mengundurkan diri, ternyata yang di sekelilingnya adalah mantan orang-orangnya Soeharto yang pengin Soeharto turun agar bisa gantian berkuasa dan merampok negara. Sehingga beliau memilih pergi dari istana dan pusaran reformasi setelah mengetahui agenda busuk tahun 1998 yang sampai sekarang tetap dipercayai anak-anak muda sebagai era reformasi. Reformasi entut lah. Beliau keliling Indonesia memimpin gerakan shalawat bersama Kiai Kanjeng.

Betapa banyaknya harta benda masyarakat yang hilang dijarah dan korban jiwa para mahasiswa begitu menyakitkan untuk dikenang. Konspirasi busuk itulah yang membuat Habibie masuk dalam jebakan dilematis antara melanjutkan industri strategis atau menandatangi utang IMF. Beliau bukan politisi seperti Soeharto makanya terpaksa tunduk dengan syarat-syarat IMF. Sementara itu Soeharto terlanjur ditolak oleh bangsa Indonesia. Padaha sebenarnya saat itu beliau dibutuhkan untuk mengawal transisi kepemimpinan sebagai wujud penebusan dosanya, setelah bersedia bertaubat dan lenggah minandito. Soeharto lah yang sebenarnya bisa menghadapai IMF dan para kapitalis global, tapi media nasional lebih tergiur untuk menyingkirkan nama beliau agar dikutuk bangsa Indonesia hingga wafatnya demi meraih keuntungan yang besar. Padahal jika kita mempelajari laku hidup Soeharto setelah turun dari jabatannya, kita pasti akan hormat pada beliau karena beliau adalah satria Jawa sejati yang telah menyadari kesalahan masa lalunya. Tapi momentum itu telah hilang, dan bangsa Indonesia terlanjur mencacinya hingga beliau wafat.

Maka persoalan pilkada DKI saat ini pun akan susah diatasi, karena isinya cuma kampanye-kampanye tidak bermutu yang berlandaskan kebencian. Belum lagi ada back up dana besar yang entah nanti seberapa besar akan diluncurkan untuk memuluskan pion mereka. Orang-orang yang cuma sibuk baper dalam isu-isu permukaan, pasti akan lengah menghadapi serbuan mengerikan ini. Ya Allah, lindungilah rakyat Jakarta, lindungilah bangsa Indonesia. Jangan biarkan kami hancur karena kebodohan dan rasa marah yang membara dalam dada kami.

Juwiring, 7 Oktober 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.