Dalam alam kapitalisme, upah rendah itu memang masalah serius. Tenanan. Ora duwe duit ki ora kepenak.

Kita telah meninggalkan alam berpikir ala Badui atau suku-suku yang masih berpegang pada kemandirian itu. Sehingga yen ra due duit, ya masalah tenan. Sebab ra iso tuku ini itu.

Ya bikin sendiri! Itu kalau alam berpikir kita masih seperti masyarakat Badui atau Boti yang setia dengan produk sendiri. Kita terlanjur jadi masyarakat yang cara berpikirnya mengikuti nalar kapitalisme, sehingga tergantung pada produk kapitalisme, dan barangkali lubuk hati kita yang paling dalam selalu bercita-cita menumpuk kapital.

Bahwa sekarang faktanya masih kere, sebenarnya cita-cita kita ingin sekaya James Riady atau Tan Sri Tahir kok. Cita-cita semacam itu umum menjadi cita-cita kita bersama. Barangkali hanya sedikit orang yang bercita-cita hidup untuk berkarya dan menikmati proses berkarya itu, baik dibayar atau tidak dibayar, sehingga ia benar-benar tidak mempermasalahkan apakah sedang punya uang atau kere.

Kita hidup dalam realitas ketergantungan pada duit, baik dalam taraf wajar maupun berlebihan. Kalau masih taraf wajar umumnya kita tetap bekerja dan menikmati bayaran hasil kerja. Tapi kalau sudah berlebihan, mungkin kita mulai mencuri mulai dari mencopet hingga membentuk geng begal, atau mencari untung dengan menjadi politikus agar bisa merampok sebanyak-banyaknya dengan cara yang lebih halus.

Kalau pebisnis, mereka punya catatan tersendiri. Sejauh yang saya tahu, para pemilik bisnis raksasa umumnya pekerja keras. Mereka visi hidupnya memang untuk itu dan fokus mengejar tumpukan kekayaan. Mereka sangat jeli memanfaatkan peluang. Hingga ketika mereka sangat-sangat kaya, para politikus, tokoh agama, dan masyarakat mudah dikendalikan dengan uang yang mereka miliki. Jadi, kaum pedagang ini memang sudah jalannya demikian.

Yang jadi masalah adalah ketika politik dimainkan untuk kepentingan bisnis. Jika pendidikan mengabdi pada kepentingan bisnis. Jika kebudayaan semata-mata hanya untuk menuruti kepentingan bisnis. Itulah masalahnya. Dan itu memang ruh dari ajaran kapitalisme itu sendiri yang sekarang sedang kita anut dalam-dalam baik kita mengaku sebagai orang beriman ataupun ateis. Orang yang mengaku beriman dan ateis umunya disatukan oleh kesamaan cita-cita dan impian, ingin kaya.

Jadi ketika sekarang terjadi keluhan upah buruh rendah, gaji guru rendah, gaji tukang anu rendah, gaji …. rendah, sementara di pucuk pimpinan perusahaan dan kantor-kantor pejabat pemerintahan gajinya berkali-kali lipat dari yang rendah-rendah tadi, memang akan selalu menjadi masalah tiada akhir. Saya kira, kalaupun ada kebijakan cetak uang sebanyak-banyaknya lalu setiap orang diberi segepok uang senilai 1 M, kayaknya masalah juga tidak akan pernah selesai.

Di tengah peradaban modern yang manusia kian absurd semacam itu, kadang saya malah berpikir betapa enaknya jadi orang-orang Badui atau orang-orang Boti. Hidup bertani, menaati kata-kata tetua adat, dan terus berkarya hingga tiba saatnya mati. Sehingga mereka tidak punya impian yang aneh-aneh, selain bagaimana menjadi bagian dari harmoni kehidupan dan bisa kembali kepada keabadian.

Surakarta, 5 Februari 2019

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.