Hidayah Allah itu punya jalannya sendiri. Serusak apa pun kehidupan, hidayah Allah itu tetap mampu memperbaikinya karena ia menyasar akal dan hati manusia. Jika manusia menggunakan akalnya sesuai fungsinya, maka pikirannya akan tercerahkan dan lahirlah pemikiran-pemikiran yang merdeka, tidak dikendalikan oleh filsafat materialisme yang tengah mengglobal seperti saat ini.

Gerakan pencerahan ini memang sekilas terlihat lamban, tapi pasti terus bergerak. Gerakan pencerahan ini mengutamakan kualitas individu sebelum membangun sistemnya. Karena setiap zaman di suatu kaum, Allah memulai perubahan dari seseorang yang ditugasi-Nya. Mereka semua menempatkan adab dan keteladanan sebagai metode dakwahnya. Sebagaimana dikisahkan dalam al Quran, satu dua ada yang menunjukkan sifat manusiawinya berupa kekhilafan, ada pula yang tampil mengagumkan, sempurna seperti Nabi Muhammad SAW sehingga dipuji oleh Pencipta-Nya sendiri.

Makanya jihad terbesar di zaman ini adalah menguasai diri sendiri agar tidak takluk dan dikuasai ilusi dan klenik yang dibangun lewat ilmu tapi berfilsafat materialisme, iklan, merk, provokasi, informasi palsu, dan seabreg penipuan yang tersaji di sekeliling kita. Ini tidak mudah untuk dilalui umat akhir zaman, tapi kita pasti bisa melewatinya walau sambil terseok-seok. Asal kita selalu berpegang pada prinsip dasar diturunkannya Dien al Islam ini, yakni tentang kasih sayang dan cinta, tentang persatuan umat, tentang keadilan dan kemanusiaan, dan tentang keharmonian hidup antar makhluk-Nya.

Jika kita kok malah senang ketika ada manusia menyiksa dan membantai manusia lain, maka periksakan kejiwaan kita pada dokter Jiwa. Karena perang dalam Islam itu mensyaratkan prajuritnya tidak menggunakan perasaan kebencian pada personel musuh; tidak merusak pepohonan; tidak membunuh anak-anak, wanita, dan pemuka agama; tidak merusak rumah penduduk dan tempat ibadah umat manapun; tidak menganiaya musuh yang telah kalah dan menyerah; dan perangnya ya berhadap-hadapan secara jantan dengan alat-alat yang wajar untuk saling mengalahkan. Itulah mengapa, kebanyakan ulama di zaman ini menasihati umatnya untuk menghindari perang jika masih bisa diusahakan dengan cara lain, agar tidak banyak nyawa yang terbunuh sia-sia, kecuali terpaksa karena musuh terlanjur meringsek dan mengganggu rumah-rumah kita.

Karena Islam itu memelihara darah dan kehormatan umat, maka berhati-hatilah dengan isu kebencian yang dihembuskan di tengah-tengah kita. Apalagi isu perang Timur Tengah yang terus dijadikan kompor untuk merusak nalar sehat umat Islam dan umat manusia di penjuru dunia, sehingga mereka lupa dengan penjajahan Israel atas Palestina dan penjajahan-penjahjahan ekonomi melalui kapitalisne di seluruh dunia. Kita lebih sibuk bermusuhan dan berkubu sehingga justru merusak persatuan umat dan melemahkan bangunan peradaban Islam.

Wajah Islam memang akan dihina lewat berbagi manipulasi informasi dan perilaku umatnya yang gegabah. Tapi kelembutan dakwah para ulama dan hidayah itu tidak akan dapat dihentikan oleh apa pun, karena keduanya tidak tergantung pada dimensi ruang dan waktu. Itu adalah jalan yang Allah pasti menjaganya. Manusia yang menggunakan akalnya akan tetap mengenal Allah dan para utusannya, baik lewat alam semesta, pengajaran guru, hingga perjumpaan-perjumpaan nyata di dalam mimpi dan dimensi alam yang lain sekalipun dia harus terseok-seok melawan berbagai mainstream amburadul seperti sekarang.

Kita telah memasuki alam modern, era pembodohan di mana manusia dikunci dan ditipu untuk percaya pada materi sehingga kesadaran akalnya mati tanpa disadari. Dan kematian akal itulah yang menyebabkan hidayah Allah yang sebenarnya tak henti-henti memancar ke lubuk hati kita menjadi tak berguna karena tak diproses untuk kebaikan hidup.

Juwiring, 19 September 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.