Setelah lulus sarjana saya itu bingung melihat potensi diri saya sendiri.

Baru setelah menikah tahu potensi diri saya yang begitu keren dan produktif, yaitu memproduksi sampah.

Dari pagi sampai malam, saya terbukti sangat produktif menghasilkan sampah. Baik dari selangkangan maupun dari aktivitas-aktivitas yang saya lakukan berupa zat organik, kertas, dan plastik.

Kecepatan saya memproduksi sampah barangkali cuma dikalahkan oleh kecepatan saya nulis status di Fesbuk untuk saat ini. Adapun produktivitas lain misalnya membuat buku, membuat majalah, jualan buku, itu masih kalah jauh dibanding produktivitas saya menghasilkan sampah.

Begitu gobloknya saya, bertahun-tahun mengabaikan produk yang begitu banyak. Saya termakan doktrin sekolah yang mengatakan sampah sebagai sisa. Padahal faktanya sampah adalah produktivitas riil manusia. Doktrin itu pula yang membuat manusia berjuang untuk lebih produktif. Semakin ia berjuang lebih produktf, produk sampah yang mereka hasilkan berkali-kali lipat. Yang mereka urus produk selain sampah, sementara produk sampahnya dibuang dan teronggok di lingkungan.

Saya berhadapĀ Ahmad Jilul Qur’ani Farid, bisa menyuarakan ini. Sebagai wartawan kamu tentu lebih jeli melihat bagaimana sebenarnya bangsa Indonesia itu sangat produktif. Sampah adalah produktivitas riil bangsa Indonesia. Apalagi di musim-musim pemilu seperti sekarang, di samping sampah fisik yang banyak tadi, sampah caci maki, umpatan, dan seabreg kekotoran dalam diri kita terus diproduksi tanpa henti.

Lalu mengapa masih ada yang tega mengatakan bangsa Indonesia bukan bangsa produktif? Betapa jahatnya orang yang berkata demikian. Masalah kita itu cuma mengemas dan memasarkan produk yang begitu banyak ini. Sekarang produk-produk ini masih kurang bernilai ekonomis, karena belum dikelola, diproses, dan dikemas secara benar.

Sejak tahu bahwa saya produktif, sekarang saya menikmati hidup dengan mengurus produk kebanggaan saya ini. Saya tak sanggup ngurusi negara, sebab produk kebanggaan saya ini sudah sangat menyibukkan saya.

Surakarta, 9 Januari 2019

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.