Ekstrimisme itu kadang juga terjadi di kalangan yang mengaku moderat sekalipun. Yakni ketika ada dua kubu yang berseberangan, ada yang mengaku moderat tapi anti kedua kubu tersebut. Memang dia seolah terlihat di tengah kedua kubu, tapi anti keduanya. Njuk piye. Hahaha

Barangkali cerita yang sering diungkapkan Cak Nun di banyak kesempatan maiyahan mengenai berbagai anggapan orang tentang dirinya bisa dijadikan referensi bagaimana menjadi manusia moderat, karena memang seharusnya dakwah itu demikian, dapat merangkul semua pihak.

Oleh kalangan NU, beliau dianggap Muhammadiyah karena keluarga dan riwayat pendidikan beliau di sekolah Muhammadiyah. Oleh kalangan Muhammadiyah, beliau dianggap orang NU karena suka shalawatan dan ziarah ke kuburan. Oleh kalangan yang ultra tekstual minded dan konservatif, beliau dicap liberal karena pendapat-pendapatnya yang dianggap liar. Oleh kalangan liberal beliau dianggap konservatif karena sering sekali beliau menelanjangi nalar kaum liberal yang tidak bermutu itu. Oleh kalangan yang mengaku sunni garis keras, beliau dicap Syiah karena sering membela orang-orang Syiah dari ancaman kekerasan akibat provokasi yang ada di media. Oleh orang-orang Syiah beliau juga tidak dimasukkan dalam ulama rujukan mereka karena memang tidak punya riwayat soal per-Syiah-an. Dan masih banyak hal yang lucu ketika ada perseteruan dua kubu, beliau dituduh demikian oleh pihak-pihak yang berkubu itu.

Nah, sebenarnya tidak masalah kita itu sekarang berorganisasi, bermadzhab, dan berkhidmat di manapun. Tapi bisakah kita menjadi diri kita sendiri yang menjadikan Allah sebagai Rabb dan Ilaah, menjadikan Nabi Muhammad sebagai teladan, dan menjadikan semua umat Islam sebagai saudara, serta tidak gampang masuk angin dengan provokasi yang dihembuskan untuk memecah belah umat?

Juwiring, 16 September 2016

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.