Ungkapan Raja Yu (yang digambarkan di film The Last Supper) usai menaklukkan Kekaisaran Qin, selalu menyentuh hati saya.

Dia adalah pemimpin oposisi yang menyatukan negeri-negeri yang merasa tertindas di bawah imperium kekaisaran Qin. Mereka merebut kendali hingga berhasil menghabisi kaisar Qin terakhir.

Kemudian dia berkata,

“Kita telah berhasil mengalahkan Qin. Banyak yang menyarankanku untuk tinggal di istananya. Tidak akan pernah. Kita mengalahkan Qin bukan untuk menjadi penerusnya yang memaksa seluruh bangsa tunduk di bawah kekuasaannya, berbahasa dengan bahasanya, berbudaya sesuai kehendaknya.

Kubagi tanah ini menjadi 19 negara, berbahasalah kalian dengan bahasa masing-masing, berpakaianlah dengan pakaian kalian masing-masing, dan hiduplah dengan kebudayaan kalian masing-masing. Kita sejajar satu sama lain, saling bersaudara sebagai negeri-negeri merdeka. Peliharalah itu semua.”

Visi Raja Yu itu tidak tercapai, karena salah satu dari bekas anak buahnya berkhianat dan menggalang kekuatan untuk kembali membangun kekuasaan imperium besar. Akhirnya ia berhasil membangun kekaisaran Han, yang berperilaku seperti kekiasaran Qin sebelumnya. Raja Yu pun dibunuh karena menolak keinginan itu.

Bagaimana dengan sebuah negara yang berdiri di tahun 1945, menduduki istana yang dulu di bangun oleh Belanda, melanjutkan banyak tradisi birokrasi dan sistem hukum mereka, termasuk sistem kesatuan yang merupakan visi besar Gubernur Jenderal Van Heutzs. Narasi sejarahnya pun hanya dengan membalik apa yang dulu ditulis oleh pendahulunya, tanpa melihat kenyataan masa lalu leluhurnya yang merupakan sebuah konfederasi.

Dengan kekaisaran baru ini, banyak bahasa yang akan segera lenyap beserta aksaranya. Banyak kearifan hidup masyarakat yang akan dilupakan generasi berikutnya. Banyak hutan yang akan dihancurkan demi memenuhi setoran di Batavia baru untuk dijadikan bancakan bersama.

Surakarta, 28 April 2019

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.