Kalau dipikir-pikir, titip 50ribu pada salah seorang yang lagi judi main domino (dan kita ikut nonton) itu lebih masuk akal ketimbang titip suara pada orang di parlemen. Hahaha.

Kalau titip 50ribu dan ikut nonton, kita bisa tahu cara dia berjudi hingga berakibat menang atau kalah. Soal rugi atau untung itu wajar, karena judi memang soal menang kalah.

Lha kalau titip suara kepada anggota dewan, bagaimana kita bisa ikut memantau prosesnya sehingga kita bisa mengerti mengapa yang terbit adalah aturan-aturan aneh yang menguntungkan pengusaha dan sering merugikan rakyat kecil?

Tentu perumpamaan ini hanya guyon. Ini sebenarnya adalah sebuah pertanyaan serius bagaimana sistem perwakilan rakyat kita itu bisa berlaku lebih masuk akal seperti kita ikut pasang taruhan pada para pemain judi tadi. Tidak seperti sekarang ini.

Politik itu ibarat perjudian, walau di sana ada adu argumentasi rasional. Tapi perjudian macam apa yang rakyat sudah titip segalanya (dilambangkan dengan suara di pemilu) tapi tidak bisa ikut memantau jalannya perjudian sehingga bisa mengerti mengapa hasilnya sangat-sangat merugikannya. Kan gelap namanya.

Lebih lanjut lagi, jika memang wakil rakyat, seharusnya kelompok manapun yang menang, hasilnya pasti bermanfaat bagi rakyat banyak. Kok ini nggak ya? Kan katanya mereka itu wakil rakyat, artinya jika prosentasenya rakyat kecil lebih besar, artinya kan kubu manapun yang menang di parlemen, rakyat kecil yang untung. Logikanya demikian.

Lha kok ini yang sering menang adalah pengusaha saja, yang jumlahnya cuma sekian persen dari total semua rakyat. Kalau kenyataannya kayak gitu, kan kita jadi bertanya, “kalian itu sebenarnya wakil rakyat beneran atau anak buah pengusaha sih?”

Surakarta, 10 Maret 2019

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.