Ritual Pembukaan Lahan Baru
Membaca tulisan Noam Chomsky semakin menguatkan pernyataan Cak Nun tentang derita kemiskinan yang mendera warga AS. AS yang terlihat megah itu sebenarnya ya di kota-kotanya saja. Masyarakatnya ya menderita karena berbagai pajak dan sepinya lapangan kerja. Masih mending bangsa Indonesia, bisa tertawa lepas meskipun pahit tiap hari diakali pemerintah juga.
Ketika berkesempatan ikut mendengarkan cerita Prof. Scott Kennedy ketika berkunjung ke Segoro Gunung, yang masih memiliki hubungan keluarga dengan Presiden John F. Kennedy semakin terang keadaannya. Dia menyebut ada salah satu negara bagian di AS yang saking longgarnya izin memiliki senjata pribadi, setiap orang yang bepergian bisa membawa dan menggunakannya. Sehingga tragedi penembakan bisa terjadi sewaktu-waktu. Yang mencuat di pemberitaan itu hanya sebuah cerita kecil dibandingkan kenyataan yang ada. Pendek kata, karena penderitaan yang sangat itu, angka kriminal di negara bagian itu sangat tinggi.
Kemudian membaca analisisi Syaikh Imran Hosein tentang posisi AS sebagai pelindung Zionis dan NATO sebagai tentara Zionis menarik untuk dicermati. Lebih nendang lagi ketika Noam Chomsky menyebut Pentagon sebagai markas para preman bayaran yang hanya tunduk dan mengabdi kepada kepentingan para korporat multinasional. Sebutan Noam ini paling logis dan langsung menjelaskan duduk permasalahannya, bahwa jika ada serangan AS dan NATO ke mana pun urusan sebenarnya adalah paguyuban juragan kapitalis internasional itu sedang butuh lahan baru. Penaklukan-penaklukan yang dilakukan oleh AS dan NATO adalah ritual pembukaan lahan, mirip pembakaran hutan di Indonesia. Bedanya kalau pasukan AS dan NATO membakar gedung-gedung dan isinya.
Soal isu terorisme, anti-demokrasi, nuklir, senjata pemusnah masal, Sunni-Syiah dll semuanya bisa dibuat-buat untuk menggulingkan pemerintah lokal yang berdaulat dan melindungi kepentingan bangsanya (meskipun dia dikator dan juga korup). Tapi kalau rakyat tahu petanya, tentu mereka lebih rela ditindas para diktator itu ketimbang harus dijadikan sapi perah para juragan kapitalis internasional hingga kering kerontang. Mari belajar dari penumbangan Saddam Hussein, Qadafi, dan yang lebih awal di negeri kita, penggulingan Presiden Soekarno. Isu PKI dijadikan kambing hitam untuk menggulingkan presiden dan hingga hari ini hantu komunisme itu masih tetap dibangkitkan. Padahal hari ini Partai Komunis China adalah mesin kapitalisme global yang baru. Jadi kalau di Indonesia, PKI kembali muncul urusannya ya membangun persekutuan ekonomi dengan China. Tidak ada bedanya dengan kongsi Indonesia dengan AS dan sekutunya di zaman orde baru.
Hal ini penting agar kita tidak salah untuk kali terakhirnya, adalah dalam memandang Suriah. Percayalah kalaupun Arab Saudi memusuhi Suriah dan kalaupun benar Bashar al Assad adalah seorang Syiah, pertimbangkan bahwa Arab Saudi adalah teman akrab Israel. Dan semua orang sudah tahu bagaimana Israel itu tumbuh sebagai benalu di tengah-tengah bangsa Arab dan umat Islam, Kristen, bahkan kaum Yahudi ortodoks sekalipun. Belajarlah dari Yaman yang hari ini hancur lebur dibombardir oleh Arab Saudi dibawah bantuan AS, NATO, dan Israel. Negara yang didoakan keberkahannya oleh Rasulullah itu kini sedang menanggung ujian berat akibat penindasan luar biasa dari para manusia berhati mesin itu.
Surakarta, 28 Maret 2018