Mau presidennya siapa, beliau hanya satu bagian dari sistem kekuasaan yang besar ini to. Jadi ketimbang do unggul-unggulan siapa calon presidennya, mari kita kawal hutang pemerintah (yang diaku-aku sebagai hutang negara) yang jumlahnya terus bertambah itu.

Kan pemerintah itu lembaga yang dibentuk untuk menjalankan pengelolaan negara. Mereka bekerja atas dasar dana operasional yang sanggup diberikan oleh rakyat. Lha kalau rakyat kuat iurannya (melalui pajak-pajak dan berbagai tarikan lainnya) hanya 2.500 T, mengapa pemerintah membuat anggaran sampai 3.000 T. Kan itu gendeng namanya.

Lebih mendasar lagi? Benarkah sebagian besar rakyat negeri ini setuju pemerintah cari hutangan dan nanti rakyat yang mau membayarnya? Saya kira tidak. Ada memang beberapa rakyat yang mau, tapi yang tidak mau pasti lebih banyak. Kalau ditanya benar-benar kepada rakyat, mesti rakyat milih birokrasi pemerintah dan anggota parlemen itu sedikit saja orangnya agar anggarannya tidak terlalu besar. Programnya juga yang prioritas-prioritas saja, biar tidak boros.

Selain itu, rakyat kalau dimintai benar-benar pendapatnya soal negara ini mereka akan mengusulkan hal yang wajar dan sederhana, yaitu belanja pengeluaran jangan lebih besar dari iuran yang sanggup diberikan rakyat. Hanya saja, kondisi rakyat saat ini sedang dimabuk kepayang oleh pencitraan. Mereka tak sanggup berpikir wajar lagi sebab lagi asyik pro-proan di salah satu kubu. Padahal semua kubu elit politik ya akan berperilaku mirip-mirip kalau sudah berkuasa. Sebab mereka leluasa berbuat sesukanya di tengah rakyat yang terbelah cara pandanganya.

Sayangnya, sesama rakyat pun kita susah untuk saling meyakinkan dan memastikan bahwa kita nggak mau menerima tanggungan hutang pemerintah (yang diaku-aku sebagai hutang negara). Itu jelas-jelas hutang akibat kesalahan manajemen pemerintah, kok rakyat yang harus membayar. Ra mutu. Dan rakyat yang jutaan ini, banyak yang tidak sadar dengan ketidakmutuan itu, sambil terus bertengkar soal preferensi politiknya menjelang 2019. Tidak sadar bahwa mereka sedang mewariskan bencana terhadap anak cucunya sendiri. Sementara para elit politik, meskipun kelihatannya bertengkar, sama-sama kompak meletakkan pondasi untuk anak cucunya, yaitu menikmati kekayaan dari pundi-pundi rakyat yang gampang diakali itu. Cukup dengan modal cocot dan pencitraan.

Setiap lima tahun sekali, para elit ini tetap bisa berjudi kekuasaan dengan memanfaatkan rakyat koplak, terutama yang jadi akademisi dan kelas menengah yang mendadak bisa jadi sangat goblok gara-gara condong kepada kepentingan para penguasa. Sementara rakyat bawah sudah semakin terinjak-injak aneka beban yang ditimpakan para elit penguasa dan kelas menengah, ternyata masih ada juga di antara mereka yang bersedia ngeden-ngeden ikut kampanye hanya gara-gara terpedaya senyum plengah-plengeh atau dapat amplop seharga 4 bungkus rokok. Demikianlah balada negeri aneh bin ajaib ini.

Surakarta, 18 Agustus 2018

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.