Hakikat negara itu terletak pada perjanjian antar masyarakat yang menyepakatinya. Kalau di antara masyarakat itu saling mengkhianati, hakikatnya negara itu telah hancur.

Yang membuat negara terlihat eksis karena adanya pemerintah yang mengklaim seolah-olah dirinya negara, padahal sebenarnya sedang melayani tuan-tuan pedagang sambil menendang masyarakat hingga kehilangan tanah-tanah garapannya.

Anehnya, orang-orang yang semakin tinggi sekolahnya semakin enggan bersuara ketika ada pemaksaan-pemaksaan sistematis di tengah-tengah masyarakat oleh pemerintah. Masyarakat dipaksa untuk membayar ini itu dan dipaksa untuk setuju aneka warna kebijakan yang sebenarnya perlu ditanyakan dulu “wahai rakyat, jika ada rencana seperti ini, bagaimana pendapat kalian?”.

Anggota dewan yang konon mengklaim sebagai wakil rakyat, ternyata tidak bisa menghalangi keinginan pemerintah yang ingin mewujudkan keinginan tuan-tuan pedagang itu. Alih-alih menghalangi, justru berkomplot dan setia menerima komisi sambil menyediakan dalih-dalih pembenaran. Bahkan tanpa pernah malu, setiap lima tahun sekali, bersama para pentolan (atau malah boneka) dari pemerintah, mereka menawarkan diri untuk minta stempel agar sah duduk di kursi anggota dewan.

Celakanya, rakyat tetap setia memberikan stempel pada mereka. Hingga hari ini, belum ada tanda-tanda rakyat mengambil kendali kekuasaan yang disalahgunakan atas nama rakyat itu. Di sisi yang lain, tidak ada tanda-tanda juga segolongan orang yang memiliki kekuatan untuk mengambil kendali kekuasaan dan menegakkan kembali monarki yang pernah berdiri di tanah-tanah negeri ini. Mungkin mengabdi pada tuan-tuan pedagang lebih menjanjikan masa depan. Sementara membangun kerajaan lagi, ia akan selalu diserang oleh para pegiat HAM yang kadang-kadang menggelikan, sebab rupa-rupanya sebagian besar mereka hidup dari kucuran kantong tuan-tuan pedagang juga.

Barangkali rakyat memang masih bertahan untuk ngalah dan ngalih. Belum terpikirkan untuk ngamuk. Atau memang barangkali opsi ngamuk dikubur dalam-dalam. Sebab mengamuk itu memang semakin menghancurkan keadaan. Atau sebenarnya rakyat sendiri diam-diam juga bermimpi untuk bisa seperti tuan-tuan pedagang yang berkelimpahan. Lalu dengan derap sebisanya, rakyat pun menempuh jalan tuan-tuan pedagang itu. Tak tahu apakah bica mencapai seperti mereka, yang penting semua berderap menuju kemuliaan kapital. Sembah sujud pada tumpukan kapital. Growth, growth, growth, itulah dzikir harian dari relung hati paling dalam, sekalipun di lisan mungkin terucapkan yang lain.

Mungkinkah terbentuk negara yang seperti diangankan para founding fathers dahulu? Entahlah. Toh negara sendiri memang hanya uji coba. Sebab sebenarnya ada banyak cara bagaimana manusia itu bisa hidup berdampingan satu sama lain. Negara dan kekuasaan adalah salah satu pilihan yang sebenarnya telah tercatat dalam sejarah menimbulkan banyak kerusakan. Tapi begitulah manusia, mengulang-ulang apa yang sudah gagal diwujudkan pendahulunya. Entah memang mengulang itu menyenangkan, atau memang karena pelupa. Oleh Tuhan, setiap manusia sesungguhnya hanya Dia perintahkan bersungguh-sungguh (jihad). Definisi jihad itulah kemudian yang ditafsirkan lain-lain oleh setiap kepala. Bahkan ada kepala yang mempengaruhi kepala lainnya untuk ikut-ikutan dengan penafsiran jihadnya. Lahirlah kelompok-kelompok. Dan tak jarang, antar kelompok ini bentrok. Hingga pada bonyok.

Memimpikan kehidupan tanpa perang itu memang nyaris mustahil. Tapi setidaknya kita bisa mulai merumuskan cara-cara hidup yang lebih terhormat tanpa dikit-dikit harus menghunuskan pedang. Apalagi bertengkar soal beda pilihan dalam urusan pemilu yang lucu itu. Nikmati saja pemilunya, toh negaranya mbuh-mbuhan ada atau tidak. Pemerintahnya sih eksis, tapi negaranya kan belum jelas di mana letaknya, selain yang tersisa hanya simbol-simbol yang alhamdulillah masih merekatkan kita semua. Tapi simbol-simbol yang tersisa itu nampaknya mulai tidak cukup kuat menahan kita dari bertengkar soal perbedaan pilihan di pemilu.

Semoga rakyat tidak perlu ngamuk. Satu dua orang dari kita yang waras, akan mewaraskan kita bersama. Lalu kita tumbuh menjadi bangsa manusia yang hidup damai, bisa belajar dari lebah dan semut yang bisa hidup dengan berbagi peran, tanpa saling iri, sebab tidak merasa menguasai yang lainnya. Bisakah? Tergantung diri kita masing-masing.

Surakarta, 1 Februari 2019

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.