Wis to, nggak usah pemilu. Pak Kiai Ma’ruf dan Pak Prabowo jadi kepala negara dan wakilnya. Pak Jokowi dan Pak Sandi jadi kepala pemerintahan dan wakilnya.

Kalau pun harus ada peran oposisi, itu biar rakyat saja. Semua parpol mending jadi satu saling membantu. Ekonom-ekonomnya kubu Prabowo bagus, dipakai dong. Bahkan di PDIP juga ada Pak Kwik Kian Gie yang sudah teruji di era Gus Dur. Kok pakainya Mbak Sri.

Bangsa kita itu nggak cocok berdemokrasi ala Barat yang memakai pilih-pilihan gitu. Rakyat kita itu mentalnya kerajaan, bawaan dari zaman dulu. Kalau ada saingan dalam perebutan kekuasaan, jatuhnhya kayak perang antar kerajaan. Jadi sudahlah mau ada parpol atau tidak terserah, tapi nggak usah saling rebutan to ya.

Jika kita punya putra-putra bangsa yang hebat, mengapa harus dipersaingkan dalam permainan politik kayak gitu. Padahal sila keempat Pancasila bicara tentang permusyawaratan, bukan tentang voting menang kalah. Mbok dirembug bersama, jangan beri ruang para cukong dan sponsor mengadu domba kita. Ga relevan deh rasanya, sila keempat Pancasila ditafsirkan dengan model pilih-pilihan langsung kayak sekarang ini untuk kultur bangsa yang masih mengkultuskan sosok.

Setidaknya empat orang yang lolos jadi kandidat itu lebih baik kerja bersama saja. Sebagai yang tertua, Kiai Ma’ruf bisa nyepuhi kursi kenegaraan. Pak Prabowo mendampinginya untuk urusan-urusan ketahanan nasional. Dalam hal eksekutif pemerintahan, Pak Jokowi tetap bisa melanjutkan dengan catatan ekonom-ekonomnya dirombak lah, jangan yang sekarang ini. Pak Sandi karena duitnya banyak, bisa dong membackup pak Jokowi.

Elit-elit yang saling berembug untuk mengelola kekuasaan bersama-sama saya kira kok akan lebih bisa menekan korupsi ketimbang para elit-elit bersaing dalam kampanye rebutan kursi kekuasaan. Tentu saja rembugan ini tidak mengundang para cukong kapitalis. Artinya para elit politik benar-benar rembugan sendiri tanpa harus ada istilah koalisi dan oposisi untuk saling berbagi kekuasaan. Silahkan mengambil bayaran kerja yang besar, asal jangan memberi ruang kepada para kapitalis sebebas-bebasnya di negeri ini.

Tapi, usulan saya ini akan mentah jika ternyata para politisi adalah petualang yang hanya ingin cari kejayaannya sendiri-sendiri. Kalau memang niatnya berpolitik untuk itu, maka usulan saya ini tidak ada gunanya.

Surakarta, 25 November 2018

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.