Sistem pesantren dan padepokan pada zaman dahulu setahuku adalah model masyarakat “Madinah lokal” yang memiliki independensi tinggi terhadap intervensi kekuasaan.

Bagaimana pun para Kiai dihormati para santri, para Kiai sendiri memberi teladan tentang melayani orang dengan lebih baik. Wilayah pesantren yang luas didayagunakan membentuk sistem negara kecil. Para kiai sendiri, jika tidak ada tamu penting membaur bersama masyarakat.

Tak jarang orang baru yang datang ke “Madinah lokal” itu sering terkecoh menyuruh orang tua memikul barang-barangnya karena disangka kuli, padahal itu Kiai besarnya. Belakangan ketika si penyuruh tahu siapa yang disuruhnya ia bersimpuh meminta maaf dan menanggung malu. Tapi sang Kiai tidak pernah ambil pusing soal itu.

Itulah mengapa di mata Raffles, ancaman terhadap stabilitas kekuasaan yang paling berbahaya datang dari kalangan pesantren. Jika situasi memburuk dan penindasan dari penguasa menggila, kaum santri inilah yang pertama-tama akan segera memberikan perlawanan. Bukan untuk merebut kekuasaan, sekedar memastikan bahwa para penguasanya kembali waras. Setelah itu para santri dan kiai kembali ke “Madinah lokal”nya lagi.

Pergulatan antara pesantren dengan kekuasaan masih bisa kita rasakan baranya di era Orde Baru meskipun akhirnya banyak “Madinah lokal” yang menguning. Hari ini, kita susah mendapati fenomena yang dahulu diuraikan Raffles. Sebab sekarang, kalau nggak terlalu lembek dengan penguasa, ya biasanya terlalu ekstrim melawan penguasa, sebab mau gantian berkuasa.

Wacana Islam politik yang dahulu dibawa kaum santri untuk sekedar memastikan kekuasaan waras, terlalu didistorsi menjadi patron dalam merebut kekuasaan. Ya memang tidak salah, sebab ketika bisa berkuasa kita bisa melipatgandakan kebaikan, seperti mereka yang berkuasa untuk menyebarkan kerusakan. Tapi semestinya kita belajar, bahwa mayoritas penguasa itu tidak kuat memikul beban kekuasaan sehingga nafsu kejahatan menguasai diri para penguasa itu.

Di zaman ini, kita lebih memerlukan Kiai yang tidak wira-wiri di istana raja sekaligus para “milisi” yang siap bagi-bagi sembako dan pelatihan kemandirian umat, bukan yang mengajarkan cara merakit bom dan menenteng AK47.

Surakarta, 5 Agustus 2018

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.