Dalam sejarah nabi-nabi, pemimpin itu dilahirkan dan diangkat dari orang kecil. Karena kita terlalu menjadi pengagum sejarah raja-raja, kita lupa bahwa mayoritas nabi adalah orang kecil di mata manusia. Mereka bagian dari kaum tersebut, menyeru umat, dan sebagian mau mendengarkannya, namun kebanyakan meremehkannya.

Maka saya percaya bahwa pemimpin yang baik itu sebenarnya selalu ada setiap zaman. Tetapi karena mereka dari orang (yang dipandang) kecil, maka seperti zaman sebelumnya, mereka diremehkan dan dianggap sepi. Penguasa yang baik dilahirkan dari tatanan masyarakat yang baik, yang taat pada pemimpin mereka. Adakalanya pemimpin itu sekaligus penguasanya, tetapi kebanyakan penguasa adalah representasi dari keadaan masyarakat itu sendiri. Jika kebanyakan masyarakatnya baik, penguasanya baik, jika kebanyakan dari masyarakatnya buruk, penguasanya biasanya seperti itu.

Sejak urusan politik dan kekuasaan menjadi berhala dunia, gara-gara agama “demokrasi” yang sebenarnya bukan demokrasi diimani masyarakat dunia, termasuk umat Islam, kini trend kekuasaan diaku-aku menjadi persoalan kepemimpinan. Padahal kepemimpinan itu soal yang sangat berbeda dari kekuasaan. Kepemimpinan itu urusannya dengan spiritual dan kemanusiaan, sementara kekuasaan ya gitu deh, cenderung menggiring pelakunya menjadi diktator dan korup.

Makanya di dunia ini, hanya segelintir saja penguasa yang berkualifikasi pemimpin, seperti Raja (Nabi) Daud, Raja (Nabi) Sulaiman, Khalifah 4, Umar bin Abdul Aziz dan beberapa generasi setelahnya. Kebanyakan penguasa yang bertahta zalim dan kejam. Hanya saja kala itu pemimpin umat masih banyak, yakni para ulama yang zuhud dan tegas sebagai pembela kebenaran dan keadilan. Setiap pemimpin pasti menyerukan persatuan dan keutuhan umat, sehingga di masa ulama masih banyak, pemberontakan kepada khalifah yang kejam sekalipun jarang terjadi, karena memberontak lebih buruk dampaknya dari pada sabar bertahan hingga pergantian penguasa berikutnya.

Dan itulah yang kini sedang terjadi di negeri ini. Kita terlalu dibuai dengan cerita raja, tapi kurang mau membaca cerita rakyat. Anak-anak muda Islam terlalu terobsesi dengan kekuasaan dan berfantasi untuk mengubah masyarakat dengan kekuasaannya. Hasilnya mudah ditebak, di awal mereka begitu idealis dan berapi-api, begitu masuk sistem tumbang tak berdaya karena memang itu sistem iblis. Seharusnya ada proporsi, jangan semua terobsesi jadi raja, harusnya lebih banyak yang menempuh jalur ulama. Dengan mengikuti garis ulama, kekuasaan yang sudah terpusat dapat terus direduksi dan didistrubusikan kepada rakyat.

Jika kita terus mencela pemerintah dan menuntut dikaruniai penguasa yang baik, ada baiknya kita bertanya, “Seberapa pantas kita dikaruniai pemimpin sekaliber Shalahuddin al Ayyubi? Apa kita sudah menjadi umat yang mau mendengar dan menghidupkan Islam dengan ilmu seperti era al Ghazaly? Apa kita masih menjadi umat yang bisa membedakan ulama sejati dengan ulama pencitraan?”. Jika kita belum bisa menjawab pertanyaan semacam itu, maka kita sebenarnya hanya rajin bermimpi seperti orang yang berhalusinasi lahirnya sang Mesiah atau Ratu Adil dalam perspektif klenik.

Apa dikira nanti Imam Mahdi turun dari langit, lalu membuat keajaiban perubahan seperti penyihir putih yang melawan kegelapan gitu? Wkwkwkwk. Apa Quran dan hadits mengilustrasikan gerakan perubahan umat Islam dengan cara seperti itu? Mbok melek fren, raup sik. Islam bangkit dari kesadaran umatnya belajar, tidak baper, dan mau bersatu. Jika ormas, harakah, dan aliran masih lebih dipuja daripada ilmu tentang Islam, maka jangan terlalu berharap umat Islam segera punya Shalahuddin-nya lagi. Jika umat tak pernah mau mencari Imam al-Ghazalynya lagi, maka ya akan terus terjebak dalam kegelapan debat fikih seperti kegelapan Eropa di zaman kekuasaan gereja.

Peradaban ilmu, kunci kembalinya kejayaan Islam.

Ngawen, 4 Juli 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.