Dulu banget ketika awal-awal belajar tentang realita demokrasi, saya sering senewen sama pilihan teman yang berbeda. Apalagi sama-sama lagi belajar mengenal pergerakan dan bagaimana pergerakan itu bermakna bagi sebuah kehidupan masyarakat.

Sekarang saya woles-woles saja. Saya yang tidak cocok di bidang pemasaran tidak lagi ikut-ikutan meramaikan dan memasarkan para tokoh. Tapi saya tetap mengapresiasi teman-teman yang secara terang-terangan memilih jalan sebagai penggerak dan timses dari tokoh-tokoh yang mereka yakini baik.

Hingga saat ini, sebenarnya merupakan hal aneh ketika demokrasi berjalan, masih ada saja kasus ejek-ejekan sesama rakyat. Karena rakyat itu kan memilih di bilik suara, kok dibocorkan di ruang publik sehingga bisa saling bertengkar. Kalau teman-teman yang jadi timses mah jelas, mereka mendukung si A, si B, si C karena memang konsekuensinya sebagai timses ya begitu. Paling yang kita ingatkan, jangan salah mencari induk semang dan jangan pakai ngibul demi memenangkan bosmu. Itu saja.

Sejak Raja Jawa turun tahta 1998, apa yang kita harapkan sebagai demokrasi sebenarnya masih jauh dari harapan. Itu yang perlu dijelaskan dan diedukasikan kepada masyarakat kita. Selama ini para politisi kan berkampanye, butuh dana besar, pernahkah rakyat urunan untuk mereka? Rakyat malah minta uang. Dan mereka bisa memberi uang. Berarti ada sponsor di belakangnya. Kalau akhirnya mereka duduk di kursi anggota dewan dan jabatan-jabatan strategis, siapa yang akan diperjuangkannya? Rakyat atau sponsor? Jelas sponsornya dulu. Rakyat mah dikasih ndangdutan lagi sudah hogya hogya.

Selain politisi sebagai seorang individu, mereka juga berhimpun dalam partai politik. Apakah partai politik didanai dan dikontrol oleh rakyat? Tidak. Parpol butuh dana operasional besar dan mereka bisa mendapatkannya. Dari mana dana itu? Lagi-lagi ya dari sponsor. Atau kalau lebih etisnya, ada sponsor yang merupakan taipan-taipan raksasa, diberi status sebagai anggota. Sehingga kalau partai dapat kucuran dana besar, itu dari iuran anggota. Nanti kalau partainya berkuasa siapa yang diperjuangkan? Ya anggota. Maksudnya anggota yang telah memberi uang besar kepada partai.

Maka dari itu, ndandani Indonesia itu adalah sesuatu yang awang-awangen jika didekati dengan cara-cara sistemik. Bolehlah berwacana besar-besar tentang sebuah kekuasaan yang luar biasa. Tapi sebesar-besarnya kekuasaan, tidak banyak penguasa yang kuat mental. Lebih banyak para penguasa mengidap penyakit akibat kekuasaannya itu ketika kedudukannya semakin kokoh.

Negeri ini butuh perbaikan dari hal-hal yang mendasar. Dan itu hanya bisa dilakukan oleh rakyat yang sadar. Tidak masalah pemerintahan masih begini, masih hanya melayani kepentingan para juragan besar. Mereka punya masalah sendiri, punya persaingan sendiri, dan pasti akan hancur lebur akibat pertempuran mereka sendiri. Rakyat harus belajar dari kesalahan-kesalahan yang panjang ini. Kembali kepada akal sehatnya, tidak mengikuti iklan dan segala manipulasi lagi.

Sebagai rakyat, tentu kita tidak perlu was-was soal masa depan NKRI. Karena yang utama bagi kita bagaimana kita bisa menyelenggarakan negara yang melahirkan keadilan sosial. Ingat keadilan sosial, bukan kesejahteraan lho ya. Mengacu pada lima butir Sila Pancasila, sebenarnya nama Indonesia dan bentuk NKRI bukanlah sesuatu yang final. Semua masih bisa diubah, baik UUD-nya maupun bentuk negaranya, bahkan nama negaranya. Karena Pancasila adalah perjanjian luhur dari pendiri bangsa ini.

Jadi, jika saat ini kita mengambil posisi sebagai rakyat, ada banyak yang bisa kita lakukan dari hal-hal yang paling kecil. Dalam kebiasaan hidup sehari-hari, mulai untuk menghemat pengeluaran sampah, menyelamatkan lingkungan dari pencemaran limbah dan sampah, tidak konsumtif, tidak ikut-ikutan gaduh pada perkara-perkara politik partisan, berserikat membangun suara-suara politik yang konkrit menyangkut permasalahan riil, tidak ruwet dalam wacana-wacana mbelgedes para politisi, masih banyak lagi.

Negeri ini kekurangan rakyat yang fulltime. Sebagian besar rakyat negeri ini adalah tim hore yang hobi bergaduh mendukung para politisi yang dijagokan korporasi. Sementara korporasi-korporasi ini setiap hari memeras keringat rakyat, mematikan ekonomi lokal rakyat, dan enggan membayar pajak semestinya kepada negara. Semua ini harus dipecahkan, harus dijelaskan, dan harus diedukasikan oleh generasi muda zaman now yang bisa mengerti agar saudara-saudaranya terdekat tidak lagi menjadi korban kebodohan demokrasi dan sekedar menjadi tim hore yang sorak-sorak setiap 5 tahun sekali.

Surakarta, 18 April 2018

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.