Kalau meminjam terminologi mas Sabrang, zaman dahulu leluhur kita itu memiliki strata sosial seperti ini (urut dari yang tertinggi)
1. Orang-orang yang memiliki keunggulan spiritual
2. Orang-orang yang memiliki keunggulan dalam ilmu
3. Orang-orang yang memiliki keunggulan dalam kekuasaan
4. Orang-orang yang memiliki keunggulan dalam kekuatan
5. Orang-orang yang memiliki keunggulan dalam harta kekayaan

Makanya ketika Islam disebarkan oleh para pedagang (kasta ke-5), rakyat Nusantara susah menerima ajaran Nabi yang mulia itu. Barulah ketika dibawa oleh orang-orang yang memiliki keunggulan spiritual dan ilmu (kasta pertama dan ke-2) keadaan berubah drastis. Merekalah para wali yang membuat tatanan Jawa dan Nusantara begitu cepat berubah menjadi bumi Islam dengan izin Allah.

Namun bencana datang ketika akidah materialisme yang dibawa pasukan kolonial eropa menyelimuti Nusantara. Eropa yang dahulu masih bertuhan dengan ajaran Kristennya, dihancurkan oleh gerakan materialisme yang kita mengenalnya abad “renaisans”, di mana kekuasaan gereja dihancurkan oleh sains. Makanya di Eropa agama dan sains dipertentangkan, karena sains di bangun dalam konsep materialisme yang sudah pasti ateistik. Berbeda ketika sains masih berada di genggaman dunia Islam.

Eropa yang ateis saat itu kemudian menginvasi seluruh dunia dan menancapkan ajaran baru ke negeri-negeri jajahannya, tak terkecuali di Nusantara. Meskipun mereka tidak pernah bisa menjajah Nusantara, tapi ajaran sesatnya yang berupa agama materialisme itu menancap kuat di negeri ini, dimulai dari para penguasanya sehingga lambat laun perlawanan terhadap kaum kolonialisme mati dan para penguasa justru berkoalisi dengan kaum kolonial untuk menindas rakyat. Tinggal para ulama, pendeta, begawan, dan para murid mereka yang berjuang melawan para elit ini. Sesekali ada elit bangsawan yang sadar dan bergabung bersama barisan ulama dan santri ini melawan kekuasaan jahat kolonialisme.

Setelah masa berlalu, akhirnya tatanan strata yang bagus di awal itu hancur lebur dan menjadi terbalik sangat drastis. Jika dulu kasta ke-5 adalah kasta terendah di mata orang Jawa dan Nusantara, sekarang kasta itu menjadi kasta tertinggi. Sekarang ini kurang lebih ceritanya menjadi seperti ini.
1. Mayoritas orang ingin menjadi orang yang memiliki keunggulan dalam harta kekayaan.
2. Orang yang punya keunggulan dalam kekuatan memanfaatkan kekuataannya demi meraih harta kekayaan
3. Orang yang memiliki keunggulan dalam kekuasaan memanfaatkan kekuataan untuk mengeruk harta kekayaan
4. Orang yang memiliki keunggulan dalam keilmuan memanfaatkan kekuasaan demi meraih harta kekayaan
5. Orang yang memiliki keunggulan dalam spiritual (pseudo saja sih) memanfaatkan momentum pertemuan dengan para penguasa untuk turut meraih harta kekayaan. Golongan yang kelima ini sebenarnya tidak unggul di spiritual, cuma mereka memanfaatkan aneka aksesori luar agar terlihat memiliki keunggulan spiritual.

Nah, ketika situasi sudah terbalik seperti sekarang, apa langkahmu selanjutnya?

Juwiring, 29 Oktober 2016

2 Comments

  1. allahuakbar

    Jngan tergoda teruslah lanjutkan perjalan seprti strata yang tahap pertama
    Bkerja giat dg tujuan illahi anta maksudi waridhoka madlubi,
    Wes lempeng bro..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.