Saya lebih memercayai tafsir “majma’al bahrain” yang diterjemahkan “tempat pertemuan dua laut” di surat al Kahfi yang mengisahkan perjalanan Musa berguru pada Khidir itu sebagai simbolisasi, bukan sebagai tempat dalam arti fisik. Di rangkaian ayat itu tertera bagaimana Khidir terlihat enggan mengajari Musa, karena dia tahu bahwa Musa tidak akan sanggup memahami ilmu yang diajarkannya. Tapi Musa terus mengejar hingga mengatakan frase itu.

Tafsirnya seperti ini, tempat pertemuan dua laut maksudnya adalah seseorang yang mampu membangun pertemuan antara lautan pengetahuan yang diterimanya secara eksternal (dari buku, informasi pemberitaan, pengajaran guru, dll) dengan lautan pengetahuan internal yang diturunkan oleh Allah kepada seseorang dalam bentuk ru’yah shaadiqah (penglihatan yang benar) sehingga ia bisa menjadi orang yang sangat fakih terhadap berbagai hal. Karena menurut salah satu hadits Bukhari disebutkan bahwa dari 46 cabang kenabian, masih ada 1 yang Allah biarkan turun sampai akhir zaman sehingga setiap manusia yang berusaha sungguh-sungguh menggapainya akan mendapatkan keistimewaan ini meskipun dia tidak berderajat Nabi.

Itulah mengapa, Musa selalu keteteran melihat tingkah Khidir. Dan dari tiga kisah itu, kita mengetahui bagaimana Khidir mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan. Bukankah fungsi ilmu seharusnya demikian, menjadi upaya perbaikan agar hal-hal buruk di masa depan tidak terjadi. Khidir adalah perlambang dari manusia yang mencapai maqam sebagai majma’al bahrain, sedangkan Musa belum mencapai maqam itu sehingga cara berpikirnya selalu meleset. Dengan penafsiran semacam ini, kita mengerti bagaimana bahwa Allah akan tetap menolong umat ini dengan hadirnya orang-orang yang diberi penglihatan tajam untuk melihat kerusakan-kerusakan yang dihembuskan Dajjal melalui berbagai kamuflasenya.

Segala puji bagi Allah yang masih terus menganugerahi umat ini dengan ulama-ulama yang sebenar ulama. Mereka yang mendidik umat dengan ilmu dan keteladanan. Semoga Allah senantiasa menjaga Syaikh Imam al Badawi yang membuka mata kami tentang rahasia dalam al Quran yang kami lebih tercerahkan dari sekedar penafsiran secara fisik yang telah berlaku selama berabad-abad ini. Yang harus dilahirkan dari pendidikan umat Islam adalah generasi-generasi yang memiliki pemahaman majma’al bahrain, bukan yang tekstual akut atau kontekstual akut. Karena sebaik-baik pemahaman adalah yang diperoleh dari usaha berguru secara sungguh-sungguh dan cahaya petunjuk dari Allah.

Juwiring, 19 Oktober 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.