Saat ini, seluruh dunia mengikuti kesepakatan sebagai negara (state). Konsep negara itu sendiri akarnya dari ideologi sekuler Barat.

Konsekuensinya umat Islam ya memang cuma jadi penumpang di negara-negara mana pun. Kalau pun umat Islam memegang kontrol kekuasaan, mereka harus tunduk pada kesepakatan negara bangsa itu.

Umat Islam tidak memiliki kemampuan mengkonsolidasikan diri secara politik. Tidak hanya karena pagar-pagar negara itu, tetapi umat Islam sendiri pada dasarnya sudah terpecah belah sejak masa fitnah. Kecenderungan elit-elit umat Islam untuk berkuasa, membuat persatuan umat yang sudah dibina sejak zaman Rasulullah hingga khalifah Ali, ambyar berantakan.

Sejak perang Siffin, umat Islam sudah terbelah menjadi kubu Sunni dan Syiah. Kemudian terpecah-pecah lagi dalam kerajaan-kerajaan kecil, walau para ahli sejarah mencoba membuat narasi persatuan dengan adanya kekhalifahan Islam. Pada dasarnya umat Islam sudah tidak terkonsolidasi secara permanen dalam sebuah negara khilafah versi teman-teman Hizbut Tahrir. Apalagi ketika negara-negara Eropa mulai menancapkan kuku kolonialismenya, umat Islam mengkonsumsi aneka ideologi. Lahirnya negara-negara seperti sekarang tidak lepas dari kolonialisme itu.

Sebenarnya, seandainya konsep negara semacam ini dijalankan dengan lurus untuk tujuan keadilan, umat Islam dan umat manusia pada umumnya tidak mengalami masalah. Tapi sistem negara ini lahir pasca Perang Dunia II, di mana itu adalah abad dimulainya kapitalisme, sebuah cara menguasai dunia dengan kekuatan modal setelah sebelumnya dirasa kurang efisien ketika menggunakan cara-cara kolonialisme. Siapa pemain utamanya? Tentu saja Amerika Serikat dan negara-negara besar lain pemenang Perang Dunia II. Maka negara-negara yang lebih kecil dari AS, umumnya hanya menjadi bulan-bulanan kepentingan AS sehingga pemerintahan mereka umumnya mengikuti kepentingan global, internasional atau istilah-istilah keren lainnya yang sebenarnya lebih banyak berisi kepentingan AS. Kalau ada pemerintahan yang pro rakyat sendiri, umumnya diganggu oleh CIA. Meskipun demikian, sebenarnya tetap ada upaya negara-negara besar lain untuk menghadang dominasi AS, misal Rusia dan China.

Kenyataan ini, sebenarnya penting dimengerti oleh umat Islam bahwa saat ini kita itu cuma penumpang saja, bahkan malah cuma jadi kucing mainan atau domba aduan. Kasus Afganistan dan polemik Timur Tengah itu adalah contoh nyata bagaimana umat Islam ibarat domba-domba aduan yang dengan mudah disetir oleh segelintir agen CIA dan kroni-kroninya. Saya kira itu bukan karena luar biasanya agen CIA, tetapi memang karena situasi bangsa Arab saat ini mendukung adanya konflik itu. Yaitu nafsu mereka berkuasa masih luar biasa seperti zaman ketika Islam masih menjadi supremasi mereka.

Maka, umat Islam perlu keluar dari kubangan sistem semacam ini. Caranya? Ya mulai dari perbaikan pola pikir dan rasa percaya diri sebagai umat Islam. Umat Islam harus bisa menjadi motor penggerak penyadaran bahwa perjuangan menjaga nilai-nilai kemanusiaan dan harga diri manusia, lebih utama dari nasionalisme sempit yang terkotak-kotak dalam negara. Umat Islam harus bergerak menyiapkan gagasan pasca negara. Sebab umat Islam memiliki sistem kehidupan sosial sendiri, yakni “syura”. Ia sebentuk cara mengatur urusan-urusan bersama, yang sebenarnya sangat salah jika ditafsirkan sebagai bentuk kekuasaan. Sebab dalam Islam, setiap manusia itu adalah pemimpin bagi dirinya sendiri, sehingga setiap manusia harus dihargai seutuhnya.

Jika umat Islam tidak bergerak ke arah ini, dan cuma main-main dalam jebakan konsep negara, ya tidak akan pernah berhasil mengubah tatanan global, dan selamanya cuma jadi penumpang. Bagaimana mau mengubah, wong sumber daya politik dan ekonomi tidak sedang berada di tangan umat Islam. Saat ini umat Islam masih punya al Quran, sumber inspirasi penting yang dapat ditawarkan kepada dunia bahwa kita bisa hidup berdampingan tanpa harus diatur-atur kekuasaan besar seperti negara. Kita bisa saling memercayai sebagai sesama manusia dan membangun kesepakatan-kesepakatan setiap urusan dengan “syura”.

Silahkan bercita-cita besar untuk menjadi pemangku dunia. Tapi ingatlah dengan realita saat ini, KITA CUMA PENUMPANG.

Surakarta, 20 Desember 2018

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.