Menurutmu aneh tidak? Awalnya Madinah dan Mekah berdampingan, satunya pusat kekuasaan, satunya lagi pusat ruhani umat Islam. Lalu semakin bertambah tahun, pusat kekuasaan menjauh dari pusat ruhani. Dimulai dari pergeseran pusat kekuasaan ke Kuffah, lalu ke Damaskus, lalu ke Baghdad, hingga akhirnya ke Konstantinopel (sekarang Istanbul).

Apakah pergeseran tersebut sesuatu yang hanya kebetulan, atau sebenarnya ada upaya-upaya provokasi halus agar keduanya terpisah? Puncaknya, ketika ada dua boneka kekuasaan dibesarkan oleh kolonialisme, yang satunya mencaplok pusat ruhani umat Islam, yang satunya menghancurkan pusat kekuasaan umat Islam. Ketika pusat ruhaninya dicaplok, yang bisa dilakukan umat Islam berpuluh-puluh tahun sampai sekarang ya cuma ziarah. Begitu mau kumpul-kumpul bikin konsolidasi mesti dibubarkan.

Maka dari itu, konsep kekhilafahan Islam menurut saya ya kedua pusat kekuasaan itu harus terhubung sebagai satu kesatuan. Mengapa Kerajaan Arab Saudi yang sudah jelas menjadi penguasa (eh ngakunya pelayan) pusat ruhani umat Islam kok tidak bisa membangkitkan persatuan umat? Tengoklah sejarah tentang pembantaian para ulama yang tidak sehaluan dengan sekutu Dinasti Saud ketika mereka mencaplok tanah suci itu. Dan itulah mengapa kebanyakan umat Islam di seluruh dunia marah dan tidak sudi mengakui pelayan Haramain kala itu (Abdul Aziz bin Saud) sebagai khalifah. Bahkan ulama-ulama India meninggalkan konferensi yang digelar kerajaan untuk mendapatkan pengakuan dari umat Islam agar sah sebagai pelayan Haramain.

Apakah kekhilafahan akan bisa dipulihkan? Bisa tapi cuma sekali saat al Mahdi telah hadir. Lalu bagaimana sebaiknya kita sekarang? Sebaiknya, kita jangan bertengkar antar sesama umat Islam dan tidak usah ribut-ribut membahas soal negara. Jalanilah hidup yang berdaulat di negara masing-masing semampunya. Inisiasilah gerakan-gerakan sosial yang tidak banyak berbenturan dengan kekuasaan yang kini dalam kendali Ya’juj dan Ma’juj ini, misalnya pertanian organik, sumber energi terbarukan, pembangunan desa-desa mandiri, dan berbagai kebudayaan yang baik. Secara individu biasakan untuk puasa, baik puasa secara syariat maupun puasa tirakat (meninggalkan hal-hal yang tidak perlu meskipun mampu memiliki). Jangan konsumtif, apalagi pada makanan, pakaian, dan gaya hidup yang tidak berguna.

Minimalkan senjata dan biasakanlah hidup dengan damai. Hindari kata-kata permusuhan, apalagi dengan saudara seiman. Tidak ada jaminan kita lebih baik dari yang lain, wong sama-sama pakai uang riba, tinggal di negara-negara yang undang-undangnya menentang kedaulatan Allah, dan berbagai hal yang sudah melanggar nilai-nilai al Quran secara mendasar. Bekal kita selamat di akhirat boleh jadi tinggal shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Ekspresi cinta yang mendalam pada beliau semoga menghadirkan syafaat di hari perhitungan nanti. Nek kita njagakke ibadah kita sendiri saat ini, apa yang bisa dibanggakan wong makanan kita embuh jelas halal thayyibe (merga kakehan makan kemasan dan tidak tahu asal usulnya), pakaian kita embuh juga (apalagi produksi pakaian banyak merusak lingkungan), dan putaran ekonomi kita bukankah dalam pusaran riba?

Mengapa kita sekarang tidak banyak bershalawat, sambil apa pun. Ungkapkan rindu dan cinta yang dalam kepada Kanjeng Nabi biar segala kegelapan ini bisa diobati dengan terangnya cahaya darinya. Karena yang bisa menyelamatkan kita di akhirat nanti ya pembelaan beliau di hadapan Allah atas umatnya. Saiki mulakne ra usah do kerah bab-bab donya, apa meneh rebutan duit karo lungguhan.

Semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi yang membacanya.

Juwiring, 27 Februari 2017

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.