Polemik Islam Nusantara ramenya kayak soal Pornografi dahulu. Saya sih nggak mau ikut2an dan nggak mau mendaku2 baiknya kayak apa. Pokoke aku wis ikrar syahadatain dan berusaha untuk terus belajar, berpikir, dan beramal sesuai kapasitas ilmu dan kesadaran yang dicapai.

Polemik istilah “Islam Nusantara” itu jadi bias dari intinya. Mirip dengan pornografi. Kalau jadi orang Islam, jangan gunakan istilah pornografi, gunakan aja istilah telanjang bulat, tiga perempat telanjang, setengah telanjang, seperempat telanjang, dan tertutup rapat, bisa diperluas dengan penjelasan interval yang definitif.

Dengan definisi yang jelas seperti itu, maka cetha banget untuk mendefinsikan busana seseorang itu sesuai syariat atau tidak, tanpa harus ribut soal porno atau ndak porno. Maka proses dakwah difokuskan agar pakaian dan akhlak masyarakatnya memenuhi kriteria yang diperintahkan Rasulullah. Ra sah ribut dengan pornografi, tapi fokus mendidik wanita agar berpakaian dan berakhlak sbg wanita, dan laki-laki agar berpakaian dan berakhlak sbg laki-laki.

Trus Islam Nusantara ki jane rak yo bingung to, Nusantara dewe ora definitif. Tiap ahli punya pendapat sendiri-sendiri. Bahkan yang tidak ahli macam kita juga gemredek ikut2an berpolemik. Mbok ya sudah, rukun Islame-e dibukak maneh, diresapi dan diprakteke tenanan. Kakehan ribut takon-takonan Islamu merk-e apa? Rumangsane agama kaya produk industri po. Memang lucu sekali orang-orang yang mengaku “modern” sekarang itu. Jane modern ki yo istilah apa to, itu kan diskriminasi untuk membentuk opini bahwa yang tidak ikut mainstream sekarang njet disebut kolot alias tradisional.

Oh, inilah yang katanya modern, hidup dalam jerat opini dan berita yang tak tentu. Hanya Allah sang khaliq sandaran iman dan kesejatian.

Surakarta, 15 Juni 2015

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.