Belajarlah dari Perang Siffin, ketika kubu Muawiyah memerangi Kekhalifahan Ali. Dengan tidak bermaksud merendahkan Muawiyah, kita tetap harus mengakui bahwa kubunya berada di pihak yang salah.

Apalagi ketika saudara Ali bin Abi Thalib pernah ada yang mutung karena meminta uang pada Ali tidak diberi (karena Ali memang super miskin meskipun menjadi khalifah), lalu menyeberang ke kubu Muawiyah.

Setelah diberi uang banyak, ia diminta berpidato dengan harapan memuji Muawiyah dan mengejek Ali, dia justru berkata, “Saudaraku Ali itu pelit dimintai uang sebab dia memang tidak punya uang dan ia jujur menjalankan amanat. Sedangkan sekarang aku mendapat banyak uang dari Muawiyah, meskipun entah dari mana dia dapatnya. “

Demikian lugunya saudara Ali, seperti halnya bapaknya Muawiyah, Abu Sufyan ketika ditanya Kaisar Heraclius tentang Muhammad. Abu Sufyan menjawab, “aku membenci ajarannya, tapi dia adalah orang yang jujur dan terpercaya.” Dunia sudah berubah, orang-orang seperti saudaranya Ali dan Abu Sufyan sudah hilang. Sekarang tinggal para penjilat yang kalau dibayar memuji pada si pemberi, kalau tidak dibayar mengumpat pada yang enggan memberi.

Lalu dari mulut para penjilat itu, rakyat di seluruh penjuru negeri menjadi pemuji dan pengumpat berjamaah. Sampai mereka tidak bisa berpikir ketika melihat paradoks persahabatan Arab Saudi dengan Israel dan permusuhan Arab Saudi dengan Iran, padahal ketika Syah Iran masih berkuasa, Iran – Saudi ibarat saudara kembar yang akrab, padahal Iran Syiah dan Saudi Sunni Wahabi. Kita sudah dibutakan oleh politik, sehingga agama yang agung ini harus tunduk pada kehendak-kehendak politik para penguasa.

Dari situlah, ketika Islam dan kekuasaan dianggap dua sisi mata uang, kita hanyut dalam peperangan di antara kita sendiri. Sudah saatnya kita junjung Islam lebih tinggi dari kekuasaan. Minimal kita bisa berkata-kata seperti saudaranya Ali atau seperti Abu Sufyan. Yang mengaku Sunni, silahkan tidak setuju pada ajaran Syiah, tapi sebaiknya jangan menutup mata pada revolusi Iran yang menginspirasi kebangkitan dunia Islam dan menegaskan siapa antek Barat dan siapa yang menentang penjajahan Barat.


Meletakkan Islam di atas segala aspek kehidupan kita memungkinkan kita bisa menyadari bahwa mungkin saja kita salah dalam memilih metode berpikir, orientasi politik, praktik ekonomi, dll tanpa harus meletakkan posisi kita paling benar dan orang lain yang salah sebagai kafir, terlaknat, dan sah untuk dibunuh.

Karena Islam itu memuliakan kita untuk bertumbuh secara pemikiran, etika, dan kesadaran. Dalam proses tumbuh, tidak berarti kita tidak pernah salah. Salah itu hal wajar. Yang tidak baik adalah tidak mengakui kesalahan. Ada kesalahan yang harus diakui, baik secara individual maupun secara berjamaah. Hal itu penting untuk membangun persatuan umat Islam dan keharmonisan kehidupan sesama umat manusia.

Sejarah umat Islam terlalu lama dimanipulasi oleh cerita kekuasaan. Saking dominannya kekuasaan, ia seolah-olah menjadi indikator peradaban Islam. Padahal sudah ditulis terang-terang oleh para ulama bagaimana para perilaku penguasa. Islam tegak karena umat Islam mengamalkan Islam, bukan semata-mata jasa penguasa. Para penguasa tetaplah berperilaku wajarnya penguasa, yang terkadang diliputi kebaikan, lebih banyaknya diliputi nafsu kejahatannya sendiri.

Dengan situasi politik yang sedemikian rusak seperti sekarang, umat Islam harus belajar untuk mendudukkan antara gagasan siyasah yang dicontohkan para sahabat dengan realitas politik praktis yang dipraktikkan para pelaku politik zaman sekarang. Karena peradaban Islam bukan semata-mata kekuasaan Islam. Ia lebih luas, ia membangun kebudayaan manusia di mana pun berada. Islam tetap menyebar dengan atau tanpa kekuasaan. Karena Islam itu menyentuh perasaan manusia, bukan sekedar formalitas agama yang sekarang sedang ramai dipertengkarkan oleh sebagian umat Islam.

Surakarta, 17 April 2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses