Di negeri ini, selalu ada dua fenomena yang bertolak belakang secara ekstrim. Bisa dijadikan pelajaran agar kita tidak hitam putih memandang hidup.
Di antara para pelacur Dolly, ada yang sehabis melayani para tamu sekitar jam 2 malam, selalu mandi jinabat dan shalat tahajjud. Konon sejak ditutup melalui persiapan dan transformasi yang panjang, beliau sudah berproses dan akhirnya sekarang hidup normal.
Sementara itu, marak di TV dan media cetak/online kita melihat foto-foto KH Anu yang lagi rame nganui sebuah lembaga disambut anunya dan diciumi tangannya oleh anunya yang nganu. Mungkin KH Anu ini juga sudah nganui masjid dan fakir miskin untuk menutupi anunya. Penampilannya sangat Islami akhir-akhir ini.
Lalu apa kesimpulan kita ketika bertemu dengan manusia di sekitar kita. Belum lama ini ada seorang yang mungkin tidak pernah diperhitungkan keberadaannya oleh banyak orang. Gondrong, tidak banyak bicara, dan terkesan ra urus. Tapi sebuah kabar membuat kami kaget bahwa dia telah wafat dalam sebuah kecelakaan.
Beliau putra seorang dokter di salah satu RS terbesar di Solo, alumnus ponpes salafiyah, hafiz 30 juz (belum lama menamatkan hafalannya kembali di depan ibunya) dan qari’. Beliau pergi dengan senyum, orang tuanya pun mungkin sangat bersyukur dikaruniai putra kebanggaan seperti beliau, walau secara manusiawi pasti sedih dan merasa kehilangan.
Hidup memang tak seindah ghibah syar’i dan sesederhana pro-proan atau anti-antian.
Juwiring, 28 Oktober 2017





