Saya masih mengalami masa-masa di mana kalau jadi murid diseblaki guru di sekolah, maka jangan sampai orang tua dirumah tahu. Karena kalau orang tua sampai tahu bahwa anaknya dihajar guru di sekolah, maka akan ada penghajaran kedua di rumah.

“Kamu itu bikin malu orang tua. Kamu dihajar pak guru, pasti kamu telah berbuat salah. Sini, tak tambahi.” Kira-kira begitulah ekspresi orang tua zaman itu ketika mendapat kabar bahwa anak kesayangannya mendapatkan “hadiah” dari guru di sekolah.

Ketika sudah dewasa, murid-murid ini akan sangat mengenang para guru yang pernah menghajarnya. Mereka menertawakan kekonyolan itu dan merindui sang guru. Tidak pernah mereka dendam pada mereka walaupun di dahi mereka ada tanda dekok karena kapur tulis atau penghapus yang pernah meluncur deras.

Begitulah, zaman old. Zaman ketika saya masih sekolah dan pulangnya masih siang. Pulang sekolah masih bisa mblayang melewati hutan dan alas roban. Masih bisa mancing menyusuri kalen hingga sampai Cek Dam buatan pemerintah Orde Baru. Masih bisa ngarit dan angon kambing di lapangan dilanjutkan dengan sepak bola sampai hari gelap.

Kini zaman telah berganti. Dan saya harus bisa menyesuaikan diri. Setidaknya saya harus mencoba memahami teori ndakik-ndakik dari para pengusung Hak Asasi Manusia. Yang konon di tangan merekalah Indonesia yang kurang beradab akan diberadabkan. Zaman di mana rasa malu adalah hal aneh karena kemaluan bukan sesuatu yang harus ditutupi, apalagi rasa malu, konon jangan sampai dipunyai. Jangan punya malu, karena untuk meraih posisi tertinggi harus terus melaju.

Ketika ada yang mencoba mengajarkan kembali rasa malu, banyak yang dipidanakan. Setahu saya tinggal TIANG LISTRIK yang masih bisa dikenang sebagai pahlawan yang mengajarkan rasa malu dan menjaga harga diri, ketika seluruh negeri sedang diterpa penyakit paling biadab, yaitu TIDAK TAHU MALU.

Surakarta, 5 Februari 2018

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.