Ambulans akan lancar menjemput dan mengantar korban kecelakaan ke RS jika para pengguna jalan lain diam sejenak atau menyingkir sesaat. Itu perlambang bahwa sikap diam dan terkesan membiarkan itu tidak selamanya buruk.
Kezaliman yang terjadi di segala bidang hari ini rasanya tidak kunjung teratasi, padahal kelihatannya makin banyak yang berkiprah untuk menyelesaikan masalahnya bisa jadi disebabkan oleh sebuah keadaan seperti segolongan pengendara yang teriak-teriak “minggir-minggir oe, ada ambulans lewat” sambil memaksa-maksa pengendara berhenti atau menyingkir. Hasilnya seringkali ada kegaduhan, bahkan bisa juga kecelakaan baru, atau minimal rasa dongkol dan pisuhan.
Mengapa kita tergerak untuk berteriak “minggir-minggir ….”? Karena kita dibayangi ketakutan yang berlebihan atas kekuasaan, naga-naga ekonomi, hegemoni kebudayaan yang sekarang bersinergi menguasai berbagai negeri. Lalu kita ingin menyelamatkan semua orang dan mencoba melawan semua itu meskipun kita juga dibayangi ketakutan. Coba kita renungkan kembali, apakah semenakutkan itu? Bagaimana jika kita kompak menjalani hidup “ndableg” atas itu semua? Bagaimana jika fokus pada langkah-langkah riil dalam berbuat kebaikan dan menjaga akal sehat lewat persaudaraan sejati di keluarga dan lingkaran-lingkaran kecil kehidupan sehari-hari kita?
Besok kita LPJ-an sebagai manusia, bukan sebagai Indonesia, ormas anu, partai anu, madzhab anu, tapi sebagai fulan/ah bin/binti ….. di hadapan-Nya. Dalam menghadapi kekuasaan, naga ekonomi, dan hegemoni kebudayaan kita tidak dituntut untuk menang dan mengalahkannya. Kita diminta untuk fokus menjalani peran khas kita sesuai kehendak-Nya. Lha peran khas kita apa? Nah itu, cari sendiri-sendiri. Bumi Allah ini luas, sistemnya kompleks, tidak mungkin semua disuruh jadi tentara as is yang berperang secara wantah. Ada laut, gunung, gurun, sungai, angin, api, logam, hewan, manusia, dll, di manakah kita dikehendaki-Nya?
Surakarta, 25 Februari 2018





