{"id":434,"date":"2015-09-07T23:24:20","date_gmt":"2015-09-07T16:24:20","guid":{"rendered":"https:\/\/www.yuliardika.com\/v2\/?p=434"},"modified":"2015-09-07T23:24:20","modified_gmt":"2015-09-07T16:24:20","slug":"ulama-mulia-namun-sering-dilupa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/literasi\/puisi\/434\/ulama-mulia-namun-sering-dilupa","title":{"rendered":"Ulama, Mulia Namun Sering Dilupa"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\">Karena manusia itu memang tempat lupa, maka mari kita mengingat, sebelum lupa<br \/>\nSiapa pemimpin kita sesungguhnya? Presiden? Gubernur? Bupati? atau Khalifah?<br \/>\nMari kita mencoba melihat ke 14 abad silam<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Rasulullah hadir membawa risalah Islam untuk mengembalikan manusia agar menjadi manusia<br \/>\nYang setara satu sama lain dengan satu ketaatan yang sama, pada Allah saja<br \/>\nDi Makkah, ia tawarkan mahkota tuk sesiapa yang mau berkuasa, asal berhukum pada kitabullah<br \/>\nAmr bin Hisyam pun tertarik, namun urung karena ia terlampau rakus untuk berkuasa mutlak<br \/>\nIa hadirkan angkara, menindas para papa yang beriman pada-Nya<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Maka Rasulullah dan orang-orang beriman dibukakan oleh-Nya Madinah<br \/>\nSebuah desa yang kelak menjadi cahaya bagi dunia<br \/>\nDi sana, Rasulullah membina masjid dan memasjidkan umat<br \/>\nIa tak jadi Presiden layaknya Presidenmu kawan<br \/>\nIa tetap jadi masyarakat biasa, tapi berwibawa karena bermaqam begawan<br \/>\nPemimpin-pemimpin Muhajirin tetap dari golongannya, pemimpin-pemimpin Anshar tetap dari golongannya<br \/>\nMereka menunaikan urusan kehidupannya masing-masing<br \/>\nDan mereka bersetia pada Allah di bawah bimbingan sang Rasul mulia<br \/>\nItulah potret desa yang kelak melahirkan para pahlawan yang menyejarah<br \/>\nItulah potret desa yang melahirkan ulama-ulama generasi pertama dalam sejarah Islam<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Wafatlah sang junjungan mulia itu diiringi tangis kesedihan<br \/>\nNamun hidup mesthi berjalan<br \/>\nDipilihlah yang terbaik di antara yang baik<br \/>\nUntuk menggantikan tugas sang Rasul<br \/>\nDimulai dari Abu Bakar, sang Siddiq yang dikenal lembut namun tegas<br \/>\nKemudian Umar, sang Faruq yang dikenal tegas namun penyayang<br \/>\nKemudian Utsman, sang Dermawan yang lembut lagi santun<br \/>\nKemudian Ali, sang Pendekar yang zuhud lagi berbesar hati<br \/>\nDi tangan mereka umat terbimbing<br \/>\nMerekalah sahabat paling mulia, ulama generasi pertama umat Islam<br \/>\nIngatlah, ulama itu para pewaris nabi<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Fitnah pun datang laksana gelombang<br \/>\nMenerpa umat yang mulai cinta dunia<br \/>\nMembuat saling berbunuhan demi berebut harta<br \/>\nSaling mencaci karena hasut durjana<br \/>\nSaling menghinakan demi meraih kuasa<br \/>\nPara sahabat mulia pun semakin banyak berpulang<br \/>\nLalu mulailah masa pancaroba<br \/>\nUmat mesthi bersabar dengan hadirnya para raja<br \/>\nYang berseteru dan berebut kuasa<br \/>\nSaling mengkudeta menjadi biasa<br \/>\nLalu siapa pemimpin umat ini?<br \/>\nUlama<br \/>\nMerekalah para penerus sahabat mulia<br \/>\nMerekalah para tabi&#8217;in, lalu tabi&#8217;ut tabi&#8217;in, dan terus demikian hingga hari ini<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Zaman berganti<br \/>\nUmat semakin menjadi pelupa<br \/>\nHari ini puncaknya<br \/>\nTatkala otak-otak kita dicuci oleh peradaban Materi<br \/>\nMaka umat ini hanya mengenang kejayaan<br \/>\nDengan ukuran perang dan penaklukan<br \/>\nDengan ukuran istana megah dan luas wilayah<br \/>\nDengan ukuran kekayaan dan warisan materi semata<br \/>\nLalu pasti mereka lupa, siapa sebenar yang berjasa dalam peradaban ini<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Umat ini lebih mengenal penguasa<br \/>\nDan lupa siapa disebaliknya<br \/>\nUmat ini lebih mengenal Umar bin Abdul Aziz, tapi lupa pada Raja&#8217; bin Hawaih<br \/>\nUmat ini lebih mengenal Harun al-Rasyid, tapi lupa pada Abu Yusuf<br \/>\nUmat ini lebih mengenal Nuruddin Zanky dan Shalahuddin al-Ayyubi, tapi lupa pada Al-Ghazali dan Ibnu Athailah<br \/>\nUmat ini lebih mengenal Muhammad al Fatih, tapi lupa pada Syamsuddin Aqq<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Di negeri ini,<br \/>\nUmat lebih mengenal Raden Fatah, tapi lupa pada Wali Sanga<br \/>\nUmat lebih mengenal Tjokroaminoto, tapi lupa pada Syaikhana Khalil Bangkalan<br \/>\nUmat lebih mengenal Soekarno-Hatta, tapi lupa pada Wahid Hasyim, Mohamad Natsir, dan Masyumi<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Bukan ingin membandingkan mana yang lebih baik<br \/>\nBukan demikian, karena mereka semua mulia<br \/>\nTapi hanya mengingatkan<br \/>\nLahirnya pemimpin dan gagasan besar, karena ulama di belakangnya<br \/>\nMengapa Umar bin Abdul Aziz muncul ke permukaan<br \/>\nMengapa kaum mu&#8217;tazilah berhasil diusir dari istana<br \/>\nMengapa umat kembali bangkit setelah hancur berpecah belah dan lemah jihad<br \/>\nMengapa semangat pasukan terus terpompa hingga jatuhnya benteng Konstantinopel<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Mengapa Demak lahir, Mataram lahir<br \/>\nMengapa NU dan Muhammadiyah lahir<br \/>\nMengapa Pancasila lahir, mengapa ada kata ketuhanan, adil, adab, dan hikmat<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Maka cukuplah hari ini kita berlabuh kembali pada ulama<br \/>\nSiapa mereka?<br \/>\nMereka yang tetap teguh di dalam pijakan nilainya<br \/>\nMereka yang zuhud terhadap dunia<br \/>\nMereka yang tidak bernafsu pada kekuasaan<br \/>\nMerekalah pemimpin kita sesungguhnya<br \/>\nBukan yang kebanyakan tebar janji<br \/>\nBukan yang suka menipu<br \/>\nBukan pula yang keluyuran dengan mencuri uang kita<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Allah bukakan tabir dari ulama yang masih hidup itu<br \/>\nSetidaknya kita masih bisa menjumpai beberapa mereka<br \/>\nYang majelisnya masih bisa kita datangi<br \/>\nKarena mereka membuka diri untuk menjadi tempat bertanya umat<br \/>\nMereka yang mengajari adab dan hikmah<br \/>\nMereka yang mendidik hati kita sebelum memberi ilmu dan wawasan<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Mereka ikhlas menanggung kepedihan<br \/>\nKetika umat terus larut dalam kebodohan<br \/>\nBerbelah bagi dan saling beradu alasan bodoh<br \/>\nMereka tetap tegar dan menasihati umat dengan kelembutan<br \/>\nMeski terkadang jawaban penuh cacian dan cela yang diterima<br \/>\nDemikianlah umat hari ini<br \/>\nYang sudah merasa pintar melebihi Tuhan<br \/>\nSemakin pedihlah hati mereka<br \/>\nTapi semua itu tak mereka tampakkan di hadapan umat tercinta<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Mari kita cintai mereka<br \/>\nMari kita serap hikmah-hikmah dari lisan mereka yang mulia<br \/>\nSebelum Allah wafatkan mereka<br \/>\nSebelum dunia ini semakin kering ilmu karena diangkat lewat wafatnya mereka<br \/>\nSebelum musibah dan azab Dia timpakan tersebab kebodohan dan kerusakan pikiran kita<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Allah,<br \/>\nKaruniakanlah rasa cinta di hati kami kepada ulama<br \/>\nBukakanlah tabir antara mereka dengan kami<br \/>\nSehingga kami bisa belajar dari mereka<br \/>\nDi tengah gempuran kerusakan yang melingkupi kami<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><em>Surakarta, 6 September 2015<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Karena manusia itu memang tempat lupa, maka mari kita mengingat, sebelum lupa Siapa pemimpin kita sesungguhnya? Presiden? Gubernur? Bupati? atau Khalifah? Mari kita mencoba melihat ke 14 abad silam Rasulullah hadir membawa risalah Islam untuk mengembalikan manusia agar menjadi manusia Yang setara satu sama lain dengan satu ketaatan yang sama, pada Allah saja Di Makkah,&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_kad_post_transparent":"","_kad_post_title":"","_kad_post_layout":"","_kad_post_sidebar_id":"","_kad_post_content_style":"","_kad_post_vertical_padding":"","_kad_post_feature":"","_kad_post_feature_position":"","_kad_post_header":false,"_kad_post_footer":false,"_kad_post_classname":"","_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[8],"tags":[368,415],"class_list":["post-434","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-puisi","tag-sejarah-islam","tag-ulama"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v28.5 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Ulama, Mulia Namun Sering Dilupa - YuliArdika.Com<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/literasi\/puisi\/434\/ulama-mulia-namun-sering-dilupa\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Ulama, Mulia Namun Sering Dilupa - YuliArdika.Com\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Karena manusia itu memang tempat lupa, maka mari kita mengingat, sebelum lupa Siapa pemimpin kita sesungguhnya? Presiden? Gubernur? Bupati? atau Khalifah? Mari kita mencoba melihat ke 14 abad silam Rasulullah hadir membawa risalah Islam untuk mengembalikan manusia agar menjadi manusia Yang setara satu sama lain dengan satu ketaatan yang sama, pada Allah saja Di Makkah,...\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/literasi\/puisi\/434\/ulama-mulia-namun-sering-dilupa\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"YuliArdika.Com\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2015-09-07T16:24:20+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Mas Dika\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Mas Dika\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"4 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/blog\\\/literasi\\\/puisi\\\/434\\\/ulama-mulia-namun-sering-dilupa#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/blog\\\/literasi\\\/puisi\\\/434\\\/ulama-mulia-namun-sering-dilupa\"},\"author\":{\"name\":\"Mas Dika\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/blog\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/1b6507ea6b61d53bcee13019a239ff94\"},\"headline\":\"Ulama, Mulia Namun Sering Dilupa\",\"datePublished\":\"2015-09-07T16:24:20+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/blog\\\/literasi\\\/puisi\\\/434\\\/ulama-mulia-namun-sering-dilupa\"},\"wordCount\":801,\"commentCount\":0,\"keywords\":[\"Sejarah Islam\",\"Ulama\"],\"articleSection\":[\"Puisi\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/blog\\\/literasi\\\/puisi\\\/434\\\/ulama-mulia-namun-sering-dilupa#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/blog\\\/literasi\\\/puisi\\\/434\\\/ulama-mulia-namun-sering-dilupa\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/blog\\\/literasi\\\/puisi\\\/434\\\/ulama-mulia-namun-sering-dilupa\",\"name\":\"Ulama, Mulia Namun Sering Dilupa - YuliArdika.Com\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/blog\\\/#website\"},\"datePublished\":\"2015-09-07T16:24:20+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/blog\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/1b6507ea6b61d53bcee13019a239ff94\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/blog\\\/literasi\\\/puisi\\\/434\\\/ulama-mulia-namun-sering-dilupa#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/blog\\\/literasi\\\/puisi\\\/434\\\/ulama-mulia-namun-sering-dilupa\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/blog\\\/literasi\\\/puisi\\\/434\\\/ulama-mulia-namun-sering-dilupa#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/blog\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Ulama, Mulia Namun Sering Dilupa\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/blog\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/blog\\\/\",\"name\":\"YuliArdika.Com\",\"description\":\"Cerita, Inspirasi, dan Refleksi Kehidupan\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/blog\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/blog\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/1b6507ea6b61d53bcee13019a239ff94\",\"name\":\"Mas Dika\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/1e28066ad3ac3e5e81e523e024d72d6642ee8ba110c716833f6b35bbd0c46299?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/1e28066ad3ac3e5e81e523e024d72d6642ee8ba110c716833f6b35bbd0c46299?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/1e28066ad3ac3e5e81e523e024d72d6642ee8ba110c716833f6b35bbd0c46299?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Mas Dika\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/blog\\\/author\\\/yukadmin\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Ulama, Mulia Namun Sering Dilupa - YuliArdika.Com","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/literasi\/puisi\/434\/ulama-mulia-namun-sering-dilupa","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Ulama, Mulia Namun Sering Dilupa - YuliArdika.Com","og_description":"Karena manusia itu memang tempat lupa, maka mari kita mengingat, sebelum lupa Siapa pemimpin kita sesungguhnya? Presiden? Gubernur? Bupati? atau Khalifah? Mari kita mencoba melihat ke 14 abad silam Rasulullah hadir membawa risalah Islam untuk mengembalikan manusia agar menjadi manusia Yang setara satu sama lain dengan satu ketaatan yang sama, pada Allah saja Di Makkah,...","og_url":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/literasi\/puisi\/434\/ulama-mulia-namun-sering-dilupa","og_site_name":"YuliArdika.Com","article_published_time":"2015-09-07T16:24:20+00:00","author":"Mas Dika","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"Mas Dika","Estimasi waktu membaca":"4 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/literasi\/puisi\/434\/ulama-mulia-namun-sering-dilupa#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/literasi\/puisi\/434\/ulama-mulia-namun-sering-dilupa"},"author":{"name":"Mas Dika","@id":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/#\/schema\/person\/1b6507ea6b61d53bcee13019a239ff94"},"headline":"Ulama, Mulia Namun Sering Dilupa","datePublished":"2015-09-07T16:24:20+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/literasi\/puisi\/434\/ulama-mulia-namun-sering-dilupa"},"wordCount":801,"commentCount":0,"keywords":["Sejarah Islam","Ulama"],"articleSection":["Puisi"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/literasi\/puisi\/434\/ulama-mulia-namun-sering-dilupa#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/literasi\/puisi\/434\/ulama-mulia-namun-sering-dilupa","url":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/literasi\/puisi\/434\/ulama-mulia-namun-sering-dilupa","name":"Ulama, Mulia Namun Sering Dilupa - YuliArdika.Com","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/#website"},"datePublished":"2015-09-07T16:24:20+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/#\/schema\/person\/1b6507ea6b61d53bcee13019a239ff94"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/literasi\/puisi\/434\/ulama-mulia-namun-sering-dilupa#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/literasi\/puisi\/434\/ulama-mulia-namun-sering-dilupa"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/literasi\/puisi\/434\/ulama-mulia-namun-sering-dilupa#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Ulama, Mulia Namun Sering Dilupa"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/#website","url":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/","name":"YuliArdika.Com","description":"Cerita, Inspirasi, dan Refleksi Kehidupan","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/#\/schema\/person\/1b6507ea6b61d53bcee13019a239ff94","name":"Mas Dika","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/1e28066ad3ac3e5e81e523e024d72d6642ee8ba110c716833f6b35bbd0c46299?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/1e28066ad3ac3e5e81e523e024d72d6642ee8ba110c716833f6b35bbd0c46299?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/1e28066ad3ac3e5e81e523e024d72d6642ee8ba110c716833f6b35bbd0c46299?s=96&d=mm&r=g","caption":"Mas Dika"},"sameAs":["https:\/\/www.yuliardika.com"],"url":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/author\/yukadmin"}]}},"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p7wBRl-70","jetpack-related-posts":[],"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/434","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=434"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/434\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=434"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=434"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=434"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}