{"id":1769,"date":"2018-07-29T02:04:18","date_gmt":"2018-07-28T19:04:18","guid":{"rendered":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/?p=1769"},"modified":"2018-07-29T02:04:18","modified_gmt":"2018-07-28T19:04:18","slug":"internasionalisasi-palsu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/esai\/tafakur\/1769\/internasionalisasi-palsu","title":{"rendered":"Internasionalisasi Palsu"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Mendatangkan orang asing dengan bayaran berlipat menurut standar &#8220;internasional&#8221;, sebenarnya bukan hal baru.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Karena elit ekonomi kita juga terbiasa mengekspor barang-barang berkualitas tinggi dan mengedarkan barang-barang berkualitas rendah di pasar dalam negeri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dan betapa tololnya kaum intelektual yang mencari-cari alasan untuk membenarkan praktik aneh bin konyol semacam ini. Wis jelas kebijakan pekok, kok dibela-belain. Kowe dibayar piro emange?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mbok sesekali demo yang beginian gitu lho. Apa ndak bisa to 15 juta orang mengerumuni Jakarta untuk soal-soal begini mulai dari pengangguran, pembangunan-pembangunan industri yang menggusur lahan rakyat dan merusak lingkungan, hingga korupsi yang sedemikian sadis.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kita nggak ng-internasional yo jane ra popo. Penting masyarakat kita tumbuh sebagai peradaban yang wajar. Yang hidupnya bisa woles dan tidak dikejar waktu kayak sekarang. Mbah-mbah kita dulu itu kaum produsen murni, bukan produsen sambil mbakul.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kenikmatan hidup mereka itu bertani, melaut, dll bukan pada mbakulnya. Sehingga hasil bertani dan melaut itu dikonsumsi sendiri dan untuk kebutuhan lokal dulu. Baru disalurkan keluar. Makanya mbah-mbah kita sekalipun punya teknologi tinggi (bagi kalian yang tidak percaya nggak apa-apa), mereka tidak eksploitatif kayak sekarang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kamu kira pulau Jawa hanya sebuah pulau yang padat penduduknya. Kamu kira Daendels beneran membuat jalan 1000 km dalam waktu 5 tahun. Hanya orang konyol yang percaya bualan sejarah itu. Jalan itu sudah ada jauh berabad-abad silam. Daendels dan para kolonialis yang tahu sejarah, tinggal resik-resik suket dan alang-alang saja. Lalu mereka ngeklaim sudah membangun jalan. Mirip sama &#8230;&#8230; (lanjutkan sendiri).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bagaimana jika suatu saat kota-kota masa lalu yang sengaja ditimbun dengan tanah oleh leluhur kita itu terbuka ke publik. Bagaimana ketika jalan-jalan tol di pulau Jawa tidak bisa digagalkan dan berhasil terbangun, sehingga terkuak mengapa para investor begitu bergairah membangun jalan tol? Apakah gunung-gunung berapi hanya bercerita soal lahar panas dan penderitaan? Bukankah abu vulkaniknya saja membuat bumi begitu subur. Tidak penasarankah kita dengan kandungan-kandungan mineral yang ada di dalamnya?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bangsa ini janjane cuma berharap agar para pemimpin kita itu tidak kakehan polah. Hidup wajar saja, woles, ra usah kakehan indeks-indeksan. Bangsa kita itu bisa hidup dengan nilai-nilai kewajarannya sebagai produsen. Cuma entah kenapa sekarang kita berubah drastis menjadi konsumen. Itu pun konsumen parah yang doyannya mengkonsumsi yang nggak-nggak. Contohnya, bokep dan game. Hahaha<\/p>\n<p><em>Surakarta, 27 April 2018<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mendatangkan orang asing dengan bayaran berlipat menurut standar &#8220;internasional&#8221;, sebenarnya bukan hal baru. Karena elit ekonomi kita juga terbiasa mengekspor barang-barang berkualitas tinggi dan mengedarkan barang-barang berkualitas rendah di pasar dalam negeri. Dan betapa tololnya kaum intelektual yang mencari-cari alasan untuk membenarkan praktik aneh bin konyol semacam ini. Wis jelas kebijakan pekok, kok dibela-belain. Kowe [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[11],"tags":[933,932,612,753],"class_list":["post-1769","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-tafakur","tag-daendels","tag-hidup-sederhana","tag-internasionalisasi","tag-kolonial"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Internasionalisasi Palsu - YuliArdika.Com<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/esai\/tafakur\/1769\/internasionalisasi-palsu\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Internasionalisasi Palsu - YuliArdika.Com\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Mendatangkan orang asing dengan bayaran berlipat menurut standar &#8220;internasional&#8221;, sebenarnya bukan hal baru. Karena elit ekonomi kita juga terbiasa mengekspor barang-barang berkualitas tinggi dan mengedarkan barang-barang berkualitas rendah di pasar dalam negeri. Dan betapa tololnya kaum intelektual yang mencari-cari alasan untuk membenarkan praktik aneh bin konyol semacam ini. Wis jelas kebijakan pekok, kok dibela-belain. Kowe [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/esai\/tafakur\/1769\/internasionalisasi-palsu\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"YuliArdika.Com\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2018-07-28T19:04:18+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Mas Dika\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Mas Dika\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"2 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/blog\\\/esai\\\/tafakur\\\/1769\\\/internasionalisasi-palsu#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/blog\\\/esai\\\/tafakur\\\/1769\\\/internasionalisasi-palsu\"},\"author\":{\"name\":\"Mas Dika\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/blog\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/1b6507ea6b61d53bcee13019a239ff94\"},\"headline\":\"Internasionalisasi Palsu\",\"datePublished\":\"2018-07-28T19:04:18+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/blog\\\/esai\\\/tafakur\\\/1769\\\/internasionalisasi-palsu\"},\"wordCount\":360,\"commentCount\":0,\"keywords\":[\"Daendels\",\"hidup sederhana\",\"internasionalisasi\",\"kolonial\"],\"articleSection\":[\"Tafakur\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/blog\\\/esai\\\/tafakur\\\/1769\\\/internasionalisasi-palsu#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/blog\\\/esai\\\/tafakur\\\/1769\\\/internasionalisasi-palsu\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/blog\\\/esai\\\/tafakur\\\/1769\\\/internasionalisasi-palsu\",\"name\":\"Internasionalisasi Palsu - YuliArdika.Com\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/blog\\\/#website\"},\"datePublished\":\"2018-07-28T19:04:18+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/blog\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/1b6507ea6b61d53bcee13019a239ff94\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/blog\\\/esai\\\/tafakur\\\/1769\\\/internasionalisasi-palsu#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/blog\\\/esai\\\/tafakur\\\/1769\\\/internasionalisasi-palsu\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/blog\\\/esai\\\/tafakur\\\/1769\\\/internasionalisasi-palsu#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/blog\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Internasionalisasi Palsu\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/blog\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/blog\\\/\",\"name\":\"YuliArdika.Com\",\"description\":\"Cerita, Inspirasi, dan Refleksi Kehidupan\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/blog\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/blog\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/1b6507ea6b61d53bcee13019a239ff94\",\"name\":\"Mas Dika\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/ec9fd8542d7ba155d7dc801de74d747e?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/ec9fd8542d7ba155d7dc801de74d747e?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/ec9fd8542d7ba155d7dc801de74d747e?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Mas Dika\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/blog\\\/author\\\/yukadmin\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Internasionalisasi Palsu - YuliArdika.Com","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/esai\/tafakur\/1769\/internasionalisasi-palsu","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Internasionalisasi Palsu - YuliArdika.Com","og_description":"Mendatangkan orang asing dengan bayaran berlipat menurut standar &#8220;internasional&#8221;, sebenarnya bukan hal baru. Karena elit ekonomi kita juga terbiasa mengekspor barang-barang berkualitas tinggi dan mengedarkan barang-barang berkualitas rendah di pasar dalam negeri. Dan betapa tololnya kaum intelektual yang mencari-cari alasan untuk membenarkan praktik aneh bin konyol semacam ini. Wis jelas kebijakan pekok, kok dibela-belain. Kowe [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/esai\/tafakur\/1769\/internasionalisasi-palsu","og_site_name":"YuliArdika.Com","article_published_time":"2018-07-28T19:04:18+00:00","author":"Mas Dika","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"Mas Dika","Estimasi waktu membaca":"2 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/esai\/tafakur\/1769\/internasionalisasi-palsu#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/esai\/tafakur\/1769\/internasionalisasi-palsu"},"author":{"name":"Mas Dika","@id":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/#\/schema\/person\/1b6507ea6b61d53bcee13019a239ff94"},"headline":"Internasionalisasi Palsu","datePublished":"2018-07-28T19:04:18+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/esai\/tafakur\/1769\/internasionalisasi-palsu"},"wordCount":360,"commentCount":0,"keywords":["Daendels","hidup sederhana","internasionalisasi","kolonial"],"articleSection":["Tafakur"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/esai\/tafakur\/1769\/internasionalisasi-palsu#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/esai\/tafakur\/1769\/internasionalisasi-palsu","url":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/esai\/tafakur\/1769\/internasionalisasi-palsu","name":"Internasionalisasi Palsu - YuliArdika.Com","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/#website"},"datePublished":"2018-07-28T19:04:18+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/#\/schema\/person\/1b6507ea6b61d53bcee13019a239ff94"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/esai\/tafakur\/1769\/internasionalisasi-palsu#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/esai\/tafakur\/1769\/internasionalisasi-palsu"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/esai\/tafakur\/1769\/internasionalisasi-palsu#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Internasionalisasi Palsu"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/#website","url":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/","name":"YuliArdika.Com","description":"Cerita, Inspirasi, dan Refleksi Kehidupan","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/#\/schema\/person\/1b6507ea6b61d53bcee13019a239ff94","name":"Mas Dika","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/ec9fd8542d7ba155d7dc801de74d747e?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/ec9fd8542d7ba155d7dc801de74d747e?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/ec9fd8542d7ba155d7dc801de74d747e?s=96&d=mm&r=g","caption":"Mas Dika"},"sameAs":["https:\/\/www.yuliardika.com"],"url":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/author\/yukadmin"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1769"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1769"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1769\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1770,"href":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1769\/revisions\/1770"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1769"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1769"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1769"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}