{"id":1698,"date":"2018-04-18T23:40:07","date_gmt":"2018-04-18T16:40:07","guid":{"rendered":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/?p=1698"},"modified":"2018-04-18T23:40:07","modified_gmt":"2018-04-18T16:40:07","slug":"korporatokrasi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/esai\/tafakur\/1698\/korporatokrasi","title":{"rendered":"Korporatokrasi"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Di antara manipulasi tingkat tinggi yang hari ini jarang dipahami orang awam adalah mekanisme ekspor impor yang sebenarnya melibatkan satu juragan saja.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ilustrasinya seperti ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Juragan Anu memiliki perusahaan induk di Amerika Serikat. Kemudian ia menguasai perusahaan-perusahaan di Afrika, Vietnam, dan Indonesia. Caranya dengan menguasai sebagian besar sahamnya. Covernya tetap seperti perusahaan lokal dan menggunakan SDM lokal, tapi bos besarnya si Anu. Tak hanya itu, mereka memiliki saham di perusahaan kurir dan beberapa perusahaan lain yang terkait dengan proses ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Juragan Anu itu kemudian mengumpulkan bahan mentah melalui perusahaannya di Afrika. Kemudian bahan itu diekspor ke Vietnam melalui perusahaan kurirnya untuk diproduksi di sana, karena biaya buruh jauh lebih rendah tapi produktivitasnya tinggi, maka biaya produksi bisa sangat rendah dibandingkan di produksi di AS. Peristiwa ini meningkatkan catatan ekspor pemerintah di Afrika. Tetapi pemerintah setempat ya cuma dapat bagian kecil berupa pajak ekspor, oknum pejabatnya dapat uang pemulus. Masyarakatnya dapat upah buruh plus kerusakan lingkungan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kemudian setelah barang diproduksi di Vietnam, barang diekspor ke Indonesia melalui perusahaan kurirnya juga. Maka peristiwa ini meningkatkan catatan ekspor pemerintah Vietnam. Seperti halnya d Afrika, pemerintah Vietnam dapat bagian kecil berupa pajak impor dan ekspor, oknum pejabatnya dapat uang pemulus. Masyarakatnya dapat upah buruh dan sedikit geliat ekonomi plus kerusakan lingkungan berupa polusi udara dan limbah yang dihasilkan dari industrinya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketika barang telah sampai di Indonesia, pemerintah Indonesia mencatat proses itu sebagai peristiwa impor. Pemerintah Indonesia paling banter kebagian pajak, oknum pejabatnya kebagian uang pemulus untuk keringanan pajak dan regulasi masuknya barang. Sebagian kecil rakyat Indonesia yang jadi buruh perusahaan impornya kebagian gaji. Termasuk rakyat yang jualan produk itu turut kebagian keuntungan tipisnya. Tetapi yang pasti uang rakyat Indonesia bergerak mengalir ke luar negeri melalui mekanisme impor itu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kemudian yang terjadi<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam sistem tadi baik di Indonesia, Vietnam, maupun Afrika mengalami pertumbuhan, berarti harga sahamnya naik artinya perusahaan induk di AS dapat bagian karena perusahaan induk itulah penguasa sesungguhnya. Belum lagi aliran uang keuntungan yang bergerak dari Indonesia, ke Vietnam, Afrika, ujung-ujungnya masuk sebagai keuntungan perusahaan induk di Amerika Serikat. Belum lagi keuntungan sampingan yang dihasilkan oleh perusahaan-perusahaan pengiring sistem produksi hingga pemasaran itu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bagaimana sistem itu bisa terbentuk?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ya sejak berlakunya masa kolonialisme. Gerakan kemerdekaan negara-negara bangsa dari kolonialisme sebenarnya semu. Barangkali memang gagasan kemerdekaan lahir dari pemikiran rakyat yang terjajah. Tetapi ketika negara telah berdiri, para penyelenggara negaranya justru mengkhianatinya dengan membangun sistem yang memungkinkan terjadinya neokolonialisme. Bisa jadi negara terbentuk dan direstui oleh penjajahnya karena ke depan masih bisa diatur dengan cara-cara yang lebih halus. Caranya melalui pintu perdagangan bebas dan privatisasi yang sedemikian luas itu. Demikianlah korporasi multinasional bekerja.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kita selama ini selalu dibuai dengan angka ekspor-impor yang muluk-muluk itu. Lalu percaya, lalu mendukung begitu saja sosok-sosok yang kelihatan merakyat. Sementara di sekitar kita banyak fakir miskin, gelandangan, dan berbagai pihak yang terus dizalimi tanpa diberitakan. Itulah mengapa Bung Hatta merumuskan gagasan koperasi, agar modal terdistribusi dan tidak dikuasai oleh salah satu pihak. Sebesar apa pun perusahaan, jika dibangun dari pondasi koperasi akan menguntungkan semua rakyat Indonesia.<\/p>\n<p><em>Surakarta, 21 Maret 2018<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Di antara manipulasi tingkat tinggi yang hari ini jarang dipahami orang awam adalah mekanisme ekspor impor yang sebenarnya melibatkan satu juragan saja. Ilustrasinya seperti ini. Juragan Anu memiliki perusahaan induk di Amerika Serikat. Kemudian ia menguasai perusahaan-perusahaan di Afrika, Vietnam, dan Indonesia. Caranya dengan menguasai sebagian besar sahamnya. Covernya tetap seperti perusahaan lokal dan menggunakan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[11],"tags":[634,901,903,902],"class_list":["post-1698","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-tafakur","tag-kolonialisme","tag-korporatokrasi","tag-multinasional","tag-neokolonialisme"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Korporatokrasi - YuliArdika.Com<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/esai\/tafakur\/1698\/korporatokrasi\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Korporatokrasi - YuliArdika.Com\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Di antara manipulasi tingkat tinggi yang hari ini jarang dipahami orang awam adalah mekanisme ekspor impor yang sebenarnya melibatkan satu juragan saja. Ilustrasinya seperti ini. Juragan Anu memiliki perusahaan induk di Amerika Serikat. Kemudian ia menguasai perusahaan-perusahaan di Afrika, Vietnam, dan Indonesia. Caranya dengan menguasai sebagian besar sahamnya. Covernya tetap seperti perusahaan lokal dan menggunakan [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/esai\/tafakur\/1698\/korporatokrasi\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"YuliArdika.Com\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2018-04-18T16:40:07+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Mas Dika\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Mas Dika\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"3 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/blog\\\/esai\\\/tafakur\\\/1698\\\/korporatokrasi#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/blog\\\/esai\\\/tafakur\\\/1698\\\/korporatokrasi\"},\"author\":{\"name\":\"Mas Dika\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/blog\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/1b6507ea6b61d53bcee13019a239ff94\"},\"headline\":\"Korporatokrasi\",\"datePublished\":\"2018-04-18T16:40:07+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/blog\\\/esai\\\/tafakur\\\/1698\\\/korporatokrasi\"},\"wordCount\":503,\"commentCount\":0,\"keywords\":[\"kolonialisme\",\"korporatokrasi\",\"multinasional\",\"neokolonialisme\"],\"articleSection\":[\"Tafakur\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/blog\\\/esai\\\/tafakur\\\/1698\\\/korporatokrasi#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/blog\\\/esai\\\/tafakur\\\/1698\\\/korporatokrasi\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/blog\\\/esai\\\/tafakur\\\/1698\\\/korporatokrasi\",\"name\":\"Korporatokrasi - YuliArdika.Com\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/blog\\\/#website\"},\"datePublished\":\"2018-04-18T16:40:07+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/blog\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/1b6507ea6b61d53bcee13019a239ff94\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/blog\\\/esai\\\/tafakur\\\/1698\\\/korporatokrasi#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/blog\\\/esai\\\/tafakur\\\/1698\\\/korporatokrasi\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/blog\\\/esai\\\/tafakur\\\/1698\\\/korporatokrasi#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/blog\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Korporatokrasi\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/blog\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/blog\\\/\",\"name\":\"YuliArdika.Com\",\"description\":\"Cerita, Inspirasi, dan Refleksi Kehidupan\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/blog\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/blog\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/1b6507ea6b61d53bcee13019a239ff94\",\"name\":\"Mas Dika\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/ec9fd8542d7ba155d7dc801de74d747e?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/ec9fd8542d7ba155d7dc801de74d747e?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/ec9fd8542d7ba155d7dc801de74d747e?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Mas Dika\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/www.yuliardika.com\\\/blog\\\/author\\\/yukadmin\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Korporatokrasi - YuliArdika.Com","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/esai\/tafakur\/1698\/korporatokrasi","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Korporatokrasi - YuliArdika.Com","og_description":"Di antara manipulasi tingkat tinggi yang hari ini jarang dipahami orang awam adalah mekanisme ekspor impor yang sebenarnya melibatkan satu juragan saja. Ilustrasinya seperti ini. Juragan Anu memiliki perusahaan induk di Amerika Serikat. Kemudian ia menguasai perusahaan-perusahaan di Afrika, Vietnam, dan Indonesia. Caranya dengan menguasai sebagian besar sahamnya. Covernya tetap seperti perusahaan lokal dan menggunakan [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/esai\/tafakur\/1698\/korporatokrasi","og_site_name":"YuliArdika.Com","article_published_time":"2018-04-18T16:40:07+00:00","author":"Mas Dika","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"Mas Dika","Estimasi waktu membaca":"3 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/esai\/tafakur\/1698\/korporatokrasi#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/esai\/tafakur\/1698\/korporatokrasi"},"author":{"name":"Mas Dika","@id":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/#\/schema\/person\/1b6507ea6b61d53bcee13019a239ff94"},"headline":"Korporatokrasi","datePublished":"2018-04-18T16:40:07+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/esai\/tafakur\/1698\/korporatokrasi"},"wordCount":503,"commentCount":0,"keywords":["kolonialisme","korporatokrasi","multinasional","neokolonialisme"],"articleSection":["Tafakur"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/esai\/tafakur\/1698\/korporatokrasi#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/esai\/tafakur\/1698\/korporatokrasi","url":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/esai\/tafakur\/1698\/korporatokrasi","name":"Korporatokrasi - YuliArdika.Com","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/#website"},"datePublished":"2018-04-18T16:40:07+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/#\/schema\/person\/1b6507ea6b61d53bcee13019a239ff94"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/esai\/tafakur\/1698\/korporatokrasi#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/esai\/tafakur\/1698\/korporatokrasi"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/esai\/tafakur\/1698\/korporatokrasi#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Korporatokrasi"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/#website","url":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/","name":"YuliArdika.Com","description":"Cerita, Inspirasi, dan Refleksi Kehidupan","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/#\/schema\/person\/1b6507ea6b61d53bcee13019a239ff94","name":"Mas Dika","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/ec9fd8542d7ba155d7dc801de74d747e?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/ec9fd8542d7ba155d7dc801de74d747e?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/ec9fd8542d7ba155d7dc801de74d747e?s=96&d=mm&r=g","caption":"Mas Dika"},"sameAs":["https:\/\/www.yuliardika.com"],"url":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/author\/yukadmin"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1698"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1698"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1698\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1699,"href":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1698\/revisions\/1699"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1698"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1698"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.yuliardika.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1698"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}