Di antara syariat yang indah dalam Islam itu adalah hierarki ketaatan dalam hubungan keluarga. Seorang laki-laki taatnya adalah sama ibu, bahkan disebut tiga kali, baru pada ayah. Ketaatan ini terikat sampai beliau wafat. Sedangkan perempuan, saat masih bujang ketaatannya pada ayah. Setelah menikah, beralih kepada suaminya. Ini adalah ajaran yang sangat unik dan luar biasa karena tidak akan ada konflik kepentingan.

Selama sang ibu memerintahkan yang baik-baik, maka putera laki-lakinya wajib memenuhi lebih dulu sebelum melayani permintaan istrinya, istri yang baik pasti memahami hal ini. Demikian pula, seorang ayah tidak akan memerintahkan puterinya yang telah menikah, kalau dia punya hajat pasti akan disampaikan baik-baik kepada suami puterinya agar disampaikan, tidak waton nebras. Sekilas ini dianggap birokratis oleh kaum liberal yang agamanya HAM. Cobalah untuk disimulasikan pada tataran yang lebih luas, bagaimana efek domino dari masyarakat yang menjalankan ajaran Islam dengan baik. Pasti luar biasa dan memperbaiki berbagai sendi kehidupan umat. Ini baru sebutir syariat soal keluarga lho ya.

Dadi wong Islam kok jik ra cinta karo Islam-e kebangeten lah. Di sinilah kita akan mengerti betapa perempuan sangat dimuliakan. Dan aku sampai merasa bersalah berkepanjangan (sampai sekarang) ketika pernah bersikap lancang pada privasi perempuan, sampai aku harus menghukum diriku sendiri. Makanya tidak heran jika di masa dahulu, para ibunda ulama adalah golongan perempuan yang membuktikan kemuliaan mereka dengan menjadi ibu profesional, sehingga bisa melahirkan permata umat yang menyejarah. Sementara bagi laki-laki, karena memang akan mendampingi makhluk yang dimuliakan, mosok persiapan ilmunya pas-pasan. Yang didampingi perhiasan dunia lho ya.

Di zaman kapitalisme Islami, maka berhati-hatilah. Selain bank syariah, ada juga feminisme syariah, HAM syariah dan lain-lain. Karena kita berada di kubangannya, sangat susah keluar dari sistem yang mengglobal ini. Paling tidak kesadaran pikiran kita jangan sampai padam, sehingga kita sadar sepenuhnya dan bisa waspada terus menerus. Dengan kesadaran ini, kita pasti mudah beristighfar, wong ibaratnya setiap detik kita terus berbuat dosa gini og.

Ngawen, 10 Juli 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.