Allah maha baik. Dia tidak membiarkan otak kita memiliki kemampuan otomatis untuk memutar balik sebuah kejadian layaknya sebuah CCTV ketika menganalisis sebuah peristiwa ketika berada di TKP. Sehingga lahirlah dinamika berita, dan dari situ Dia kasih teka-teki kepada kita untuk meneliti. Jika salah dengar jadinya salah keputusan, jika sengaja ngarang cerita jatuhnya dusta. Efek salah keputusan ini bisa bikin negara bubar, bisa bikin perang saudara, hingga bisa terjadi pemusnahan massal manusia.

Itulah mengapa para Nabi dan Rasul menjadi pihak yang paling berat ujiannya karena sejak awal mereka dicap pendusta, ya karena memang defaultnya manusia itu suka ngarang sendiri cerita di kepalanya masing-masing. Sayangnya, ada yang karangannya dominan lalu dia mendoktrin kepala yang lain untuk mengarang hal yang serupa. Dan ketika ada Nabi dan Rasul menyampaikan kabar langit dengan kebenaran yang nyata, tapi konstruksinya berbeda dengan karangan yang sudah umum di masyarakat, maka para kekasih Allah ini akan dicap pendusta dan orang gila.

Dan di era IT yang katanya canggih dan segalanya bisa dideteksi dengan alat, kita semakin digoda untuk banyak mengarang cerita. Saya cukup bahagia dengan semua peristiwa ini, karena koleksi ide-ide untuk saya buat cerpen dan karangan-karangan fiksi cukup banyak. Ya memang fiksi, wong saya tidak tahu pastinya. Lalu apa coba sebutan karangan saya kalau bukan fiksi, alias rekaan pikiran saya berdasarkan apa yang saya serap. Hanya saya merasa kasihan dengan orang-orang yang hari ini bertaruh mati-matian soal karangan yang beredar tanpa legitimasi di sekeliling kita. Padahal Allah sudah mewanti-wanti, jika ada kabar berita dari orang fasiq, klarifikasilah. Dan jauhilah prasangka, karena sebagiannya adalah dosa.

Nah, di era kedustaan yang luar biasa mengerikan ini, mengapa kita tidak saling mengarang cerita saja? Lalu kita saling tukar tulisan untuk dibaca. Namanya aja tulisan fiksi atau opini, ya nggak bisa saling dipaksakan to. Dan kita akui saja kebodohan kita yang sudah level berbahaya, bahkan saking bodohnya kita, sudah diberi al Quran dan bersyahadat sebagai seorang muslim, hobi bertengkar kita masih belum hilang. Bahkan sekarang justru menjadi-jadi. Bahkan di belahan bumi sono, bertengkarnya sampai mengakibatkan jutaan orang kehilangan tempat tinggal dan merusak kehidupan yang damai.

Seandainya al Quran itu makhluk dan bisa ngomong pakai bahasa Jawa, apa dia akan berkata seperti ini kepada kita “dapuranmu ki ancene pekok tenan, aku ki wis ngancani kowe atusan tahun, ning kowe ki ra mudheng-mudheng. Lha ya apa sih, kowe kok malah kerah karo kancamu dewe, nggawa-nggawa aku.” Dan entah nanti setelah kita mati, apa juga masih mau kerengan di alam kubur sembari mengabaikan pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir? Sepertinya tidak. Di situlah kita mungkin menyesal karena kemriyek di dunia seperti saat ini. Dan sesal itu selalu datang belakangan.

Jadi, mari mengarang! ‪#‎GaNyambung‬

Juwiring, 6 April 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.